Surya,
Ada yang aneh kawan dengan panorama yang disuguhkan dunia.
saat waktu bertambah lelah.
Dan zaman telah renta.
Saat kau ajak aku menelusuri ruang kota ini.
Orang-orang sibuk membangun sebuah tembok.
Bukan tembok biasa.
Tersusun bukan dari bongkahan bata.
Tapi es!!
Ya!! Tembok es!!!
Surya,
Kau bisa melihat sendiri kan?
Bagaimana tembok-tembok itu berdiri dengan megahnya.
Kuat, tinggi dan menjulang.
Tapi es adalah pasangan abadi kata dingin.
Dan dingin adalah penyakit yang melinukan persendian, membuatku menggigil demam
Aku tak suka!!!
“Biar kucairkan es ini!! kuhancurkan temboknya untukmu.” Kau membusungkan dada.
Mencoba meniru gaya Superman atau Batman. Mencoba menjadi pahlawan.
Kau berusaha kuat untuk mencairkan tembok es itu.
Kau kerahkan semua energimu.
Tapi nihil!! Sia-sia!!!
Tembok es itu tak mencair sedikitpun.
Orang-orang tembok es pun bergeming malah mengirim senyum sinis.
“ini bukan es biasa!!” katamu pada akhirnya. Putus asa dan terengah lelah
“Lalu apa?” aku tak mengerti.
“Entahlah!”
Aku dan kaupun terbenam dalam lautan tanya.
Menerka..........
Mengira..........
“tembok apakah itu?”
Tapi jawaban seperti tak tahan bersembunyi di ketiak sunyi.
Ia tiba-tiba muncul pada papan yang terpancang pada muka tembok.
Papan itu bertuliskan,
“Keangkuhan diri”
Kamis, 15 Oktober 2009
Senin, 12 Oktober 2009
Tenanglah disana dik
Dik …
Sepenuhnya hatiku berwarna
Disaat nuansa jingga saat petang kita bersama
Menghabisi semilir detik kehidupan
Mengarungi samudera suka dan duka
Terlebih, dik, … terkasih …
Ketika pelitamu memberikan pijar di kegelapanku
Menuntun kemana arah mataku memandang
Hingga hindari setiap petaka yang datang
Terkadang, haru biru menghiasi pelangi hati,
Dan terkadang pula, merah membakar kecemburuan
Malah, tak lekang kabut menutup pelangi di hati ini
Tetapi … jemari hati cintamu membelai halus kisi hatiku
Jikalau saat ku kering dan haus
Mengembara di sahara tanpa setitik embun
Senyum sang bunga, selalu membiaskan kekeringan
Hingga lupa akan derita dalam penderitaan
Dik, …
Jagalah pelangi yang berwarna selalu untukku
Sampai akhir hayatku saat bersamamu
Karena aku tak suka matahari
Yang selalu panas menusuk di sanubari
Padamu, dik, di peraduan berbatu nisan
Pelangimu kian hidup dan terus menyala
Walau dirimu telah pergi jauh dan tak kembali
Menghadap sang pencipta ilahi robbi …
dedicated to AURA NABILA,,tenanglah disana,,,maafkan kakakmu ini bila tiada sering berkunjung ke pusaramu,,,tapi doa kami senantiasa terhulur untukmu,,,love u my sis!!!!
Sepenuhnya hatiku berwarna
Disaat nuansa jingga saat petang kita bersama
Menghabisi semilir detik kehidupan
Mengarungi samudera suka dan duka
Terlebih, dik, … terkasih …
Ketika pelitamu memberikan pijar di kegelapanku
Menuntun kemana arah mataku memandang
Hingga hindari setiap petaka yang datang
Terkadang, haru biru menghiasi pelangi hati,
Dan terkadang pula, merah membakar kecemburuan
Malah, tak lekang kabut menutup pelangi di hati ini
Tetapi … jemari hati cintamu membelai halus kisi hatiku
Jikalau saat ku kering dan haus
Mengembara di sahara tanpa setitik embun
Senyum sang bunga, selalu membiaskan kekeringan
Hingga lupa akan derita dalam penderitaan
Dik, …
Jagalah pelangi yang berwarna selalu untukku
Sampai akhir hayatku saat bersamamu
Karena aku tak suka matahari
Yang selalu panas menusuk di sanubari
Padamu, dik, di peraduan berbatu nisan
Pelangimu kian hidup dan terus menyala
Walau dirimu telah pergi jauh dan tak kembali
Menghadap sang pencipta ilahi robbi …
dedicated to AURA NABILA,,tenanglah disana,,,maafkan kakakmu ini bila tiada sering berkunjung ke pusaramu,,,tapi doa kami senantiasa terhulur untukmu,,,love u my sis!!!!
Sabtu, 12 September 2009
hikmah menjelang fajar
Ketika subuh masih menyulam mimpi.
Subuh yang dingin dengan ketenangan elok menentramkan jiwa
Sesekali ditingkahi bunyi pekikan kodok, tiupan angin lembut masih setia mengantar tidur jangkrik2 di luar sana .
Terkadang diikuti kokokan ayam jantan yang menandakan pagi akan segera datang.
Kembali kusulam selaksa kemurnian yang berpadu dengan kesabaran.
Kupeluk erat kedua kakiku dengan punggung bertumpu pada kursi empuk ruang tengah.
Denting jarum jam terus berlari dan seakan-akan berusaha menggapai pagi.
Tapi aku sama sekali ingin berlama-lama merajut mimpi2 dari keheningan subuh ini, dan aku sama sekali tak ingin beranjak.
Sudah ¼ jam berlalu dan aku masih terpaku di tempat duduk ini.
Aku bertanya “kesabaran, sampai kapan benihmu akan tetap bertahan?
Seindah-indahnya bunga mekar takkan pernah tumbuh , jika tidak dipupuk dengan tangan-tangan telaten penuh kesabaran sebelumnya.
Karena, bisa saja tangan itu menghancurkan serta merenggut nyawanya seketika dan bunga tak bisa berbuat apa-apa.
Dan andaikan bunga itu “aku” lalu siapakah tangan itu?
Aku seketika bergidik membayangkannya…
Aku berpikir, bisa saja dengan mudah Allah menjelma menjadi sosok tangan terhadap bunga itu, menghancurkan serta merta merenggut nyawanya.
Lalu apa daya ???
Aku tak pernah menafikan datangnya kematian itu.
Aku juga tak pernah ingin menafikan keberadaan Nya yang sewaktu2 bisa berbuat apa saja padaku yang hanya seorang makhluk tak berdaya yang pernah tercipta dariNya.
Dan apakah aku salah jika berusaha mengejar cintaNya, kasihNya, dan berharap tangan2Nya mempercantik diri ini, hingga mekar seperti bunga…
Apakah aku salah, teman?
Begitu banyak bunga yang mekar dan begitu banyak bunga yang masih tetap bertahan.
Karena Apa??
Karena tangan2 manusia selalu berharap bunga itu tumbuh dan tumbuh, memperlihatkan sosok yang cantik, indah dipandang mata.
Manusiapun tersenyum, ketika bunga2 yang selalu dirawatnya tersenyum kepadanya dengan tubuh yang telah kokoh dan indah.
Tapi alangkah bodohnya aku, aku dengan segala bekal yang dititipkanNya, sebenarnya mampu berbuat apa saja pada diriku sendiri
Aku bisa menggapai dunia dengan tangan anugerah dariNya.
Aku bisa menggapai apa yang kukehendaki dengan sedikit usaha dan Dia akan memudahkanNya selagi aku masih bergantung pada keyakinan akan kekuatanNya..
Dan aku juga bisa membawa diriku menyelami mimpi2 sekedar pemuas nafsu.
Aku bebas ingin membawa diriku kemana …
Dan setelah kutahu, bahwa kejahatan itu selalu menyakitkan…
Apakah aku akan tetap ingin memilihnya.
Dan setelah kusadari kebaikan itu melembutkan kalbu…
Tidakkah aku ingin menggapainya ?????
Kamis, 10 September 2009
sabar n tahan uji
SABAR dan TAHAN UJI
Diantara keindahan akhlak orang-orang islam adalah sabar dan tahan uji karena Allah. Kesabarana adalah menahan jiwa atas hal-hal yang tidak di sukai atau menanggung yang tidak disukai dengan rela dan pasrah.
Seorang muslim menahan jiwanya atas hal yang tidak dia sukai seperti, bersusah payah melaksanakan ibadah dan taat kepada Allah, berdisiplin dalam menjalankannya, menahan diri jangan sampai berbuat maksiat kepada Allah dan sama sekali enggan mendekatinya, meskipun secara naluri, nafsunya sangat menginginkannya.
Ia juga menahan jiwanya atas cobaan yang menimpanya, sehingga tidak membiarkan kesedihan dan kebencian datang mengganggu. Kata orang bijak, "Kesedihan atas hal yang telah berlalu adalah penyakit, sedangkan kesedihan atas hal yang sedang terjadi akan melemahkan akal". Dan benci kepada takdir adalah mencela Allah SWT.
Dalam kondisi demikian, seseorang meminta tolong dengan mengingat janji Allah berupa balasan yang amat baik atas berbagai ketaatan dan Allah menjanjikan pahala yang berlimpah serta ganjaran yang besar.
Ancaman Allah terhadap orang yang membenci-Nya dan berbuat maksiat kepada-Nya berupa adzab yang pedih dan hukuman yang keras. Kita harus yakin bahwa ketentuan takdir Allah pasti berlaku dan keputusan qadha' Allah adalah adil dan hukum-Nya pasti akan terlaksana, meskipun seorang hamba itu bersabar dan bersedih. Apabila bersabar, maka akan mendapat pahala, namun apabila berkeluh kesah maka akan mendapat dosa.
Diantara keindahan akhlak orang-orang islam adalah sabar dan tahan uji karena Allah. Kesabarana adalah menahan jiwa atas hal-hal yang tidak di sukai atau menanggung yang tidak disukai dengan rela dan pasrah.
Seorang muslim menahan jiwanya atas hal yang tidak dia sukai seperti, bersusah payah melaksanakan ibadah dan taat kepada Allah, berdisiplin dalam menjalankannya, menahan diri jangan sampai berbuat maksiat kepada Allah dan sama sekali enggan mendekatinya, meskipun secara naluri, nafsunya sangat menginginkannya.
Ia juga menahan jiwanya atas cobaan yang menimpanya, sehingga tidak membiarkan kesedihan dan kebencian datang mengganggu. Kata orang bijak, "Kesedihan atas hal yang telah berlalu adalah penyakit, sedangkan kesedihan atas hal yang sedang terjadi akan melemahkan akal". Dan benci kepada takdir adalah mencela Allah SWT.
Dalam kondisi demikian, seseorang meminta tolong dengan mengingat janji Allah berupa balasan yang amat baik atas berbagai ketaatan dan Allah menjanjikan pahala yang berlimpah serta ganjaran yang besar.
Ancaman Allah terhadap orang yang membenci-Nya dan berbuat maksiat kepada-Nya berupa adzab yang pedih dan hukuman yang keras. Kita harus yakin bahwa ketentuan takdir Allah pasti berlaku dan keputusan qadha' Allah adalah adil dan hukum-Nya pasti akan terlaksana, meskipun seorang hamba itu bersabar dan bersedih. Apabila bersabar, maka akan mendapat pahala, namun apabila berkeluh kesah maka akan mendapat dosa.
Berkomunikasi dengan Tuhan
Di zaman ini, mungkinkah kita masih bisa berkomunikasi dengan Tuhan?
Bukankah Nabi terakhir telah lama wafat, dan kitab suci terakhir telah
diturunkan lima belas abad yang lampau serta Tuhan telah menyatakan sempurnanya agama kita. Masihkah terjadi dialog antara hamba dengan Tuhan?
Neale Donald Walsch percaya akan hal itu. Walsch mengaku masih bisa
berdialog dengan Tuhan. Ia kemudian menuliskan hasil dialog dengan Tuhan itu dalam bukunya "Conversations with God: an uncommon dialogue", sebuah buku yang telah berulang kali dicetak ulang.
"Aku tidak berkomunikasi semata dengan kata. Bentuk komunikasi yang Kupilih lebih melalui "perasaan" (feeling). Perasaan adalah bahasa jiwa. Jika kamu ingin tahu apa yang benar tentang sesuatu, lihatlah bagaimana perasaanmu terhadap sesuatu itu.
Aku juga berkomunikasi lewat "pikiran" (thought). Pikiran dan perasaan tidaklah sama, meskipun keduanya dapat berlangsung pada saat yang sama. Dalam komunikasi lewat pikiran, Aku menggunakan media imajinasi dan gambaran. Karenanya, pikiran lebih efektif daripada menggunakan "kata" sebagai alat komunikasi.
Sebagai tambahan, Aku juga menggunakan kendaraan "pengalaman" sebagai media komunikasi. Dan akhirnya, ketika perasaan, pikiran dan pengalaman semuanya gagal, Aku menggunakan "kata-kata". Kata-kata adalah media komunikasi yang paling tidak efektif. Kata-kata lebih sering dikeliru tafsirkan dan disalahpahami. Dan mengapa itu terjadi? Karena demikianlah kata-kata itu. Mereka hanya simbol dan tanda. Kata-kata bukanlah kebenaran; juga bukan sesuatu yang hakiki." (Walsch:1997, h. 3-4)
Inilah "jawaban" Tuhan, ketika Walsch bertanya tentang cara Tuhan berkomunikasi dengan kita. Anda boleh tak setuju dengan pengakuan Walsch. Tak ada larangan kalau anda bersedia menggelari dia dengan "pendusta".
Tapi, buat saya, yang menarik adalah kutipan di atas. Bahkan seorang non-Muslim seperti Walsch pun percaya bahwa Tuhan masih berkomunikasi dengan kita. Sayang, terkadang kita lupa akan hal ini, bahwa Tuhan masih berkomunikasi dengan hamba-Nya.
Ketika Walsch --atau "Tuhan"-- menyebutkan perasaan, pikiran, pengalaman dan kata-kata sebagai bentuk komunikasi dari Tuhan, saya teringat, Syaikh Ibn Arabi yang mengatakan bahwa alam semesta merupakan bentuk tajalli dari Allah. Karena itu kemana saja kita arahkan pandangan mata kita, sebenarnya kita menangkap "tanda" Tuhan di sana.
Sayang, kita suka enggan berkomunikasi dengan Tuhan. Shalat pun menjadi berat. Beban kerja yang menumpuk menjadi alasan. Saat kita menzalimi saudara kita, kita sering lupa bahwa saudara kita masih bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan mengadukan kelakuan kita. Ketika duka datang menerpa kita, kita lebih percaya untuk berkomunikasi dengan "orang pintar" dibanding kita adukan derita kita langsung kepada Tuhan. Alih-alih melihat "tanda" dari Tuhan, hambatan ekonomis malah menjadi pembenar ketika kita menerima uang yang bukan hak kita.
Anda boleh tak setuju bahwa buku Walsch merupakan hasil komunikasinya dengan Tuhan. Anda boleh tak setuju ketika Ibn Arabi mengaku "didiktekan" Malaikat ketika menulis Futuhat al-Makkiyah, namun tak ada salahnya saya mengutip lagi isi buku Walsch, ketika "Tuhan" berkata:
"Aku bicara kepada setiap orang. Pada setiap waktu. Masalahnya bukan kepada siapa Aku bicara, tetapi siapa yang mau mendengarkan?"
Bukankah Nabi terakhir telah lama wafat, dan kitab suci terakhir telah
diturunkan lima belas abad yang lampau serta Tuhan telah menyatakan sempurnanya agama kita. Masihkah terjadi dialog antara hamba dengan Tuhan?
Neale Donald Walsch percaya akan hal itu. Walsch mengaku masih bisa
berdialog dengan Tuhan. Ia kemudian menuliskan hasil dialog dengan Tuhan itu dalam bukunya "Conversations with God: an uncommon dialogue", sebuah buku yang telah berulang kali dicetak ulang.
"Aku tidak berkomunikasi semata dengan kata. Bentuk komunikasi yang Kupilih lebih melalui "perasaan" (feeling). Perasaan adalah bahasa jiwa. Jika kamu ingin tahu apa yang benar tentang sesuatu, lihatlah bagaimana perasaanmu terhadap sesuatu itu.
Aku juga berkomunikasi lewat "pikiran" (thought). Pikiran dan perasaan tidaklah sama, meskipun keduanya dapat berlangsung pada saat yang sama. Dalam komunikasi lewat pikiran, Aku menggunakan media imajinasi dan gambaran. Karenanya, pikiran lebih efektif daripada menggunakan "kata" sebagai alat komunikasi.
Sebagai tambahan, Aku juga menggunakan kendaraan "pengalaman" sebagai media komunikasi. Dan akhirnya, ketika perasaan, pikiran dan pengalaman semuanya gagal, Aku menggunakan "kata-kata". Kata-kata adalah media komunikasi yang paling tidak efektif. Kata-kata lebih sering dikeliru tafsirkan dan disalahpahami. Dan mengapa itu terjadi? Karena demikianlah kata-kata itu. Mereka hanya simbol dan tanda. Kata-kata bukanlah kebenaran; juga bukan sesuatu yang hakiki." (Walsch:1997, h. 3-4)
Inilah "jawaban" Tuhan, ketika Walsch bertanya tentang cara Tuhan berkomunikasi dengan kita. Anda boleh tak setuju dengan pengakuan Walsch. Tak ada larangan kalau anda bersedia menggelari dia dengan "pendusta".
Tapi, buat saya, yang menarik adalah kutipan di atas. Bahkan seorang non-Muslim seperti Walsch pun percaya bahwa Tuhan masih berkomunikasi dengan kita. Sayang, terkadang kita lupa akan hal ini, bahwa Tuhan masih berkomunikasi dengan hamba-Nya.
Ketika Walsch --atau "Tuhan"-- menyebutkan perasaan, pikiran, pengalaman dan kata-kata sebagai bentuk komunikasi dari Tuhan, saya teringat, Syaikh Ibn Arabi yang mengatakan bahwa alam semesta merupakan bentuk tajalli dari Allah. Karena itu kemana saja kita arahkan pandangan mata kita, sebenarnya kita menangkap "tanda" Tuhan di sana.
Sayang, kita suka enggan berkomunikasi dengan Tuhan. Shalat pun menjadi berat. Beban kerja yang menumpuk menjadi alasan. Saat kita menzalimi saudara kita, kita sering lupa bahwa saudara kita masih bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan mengadukan kelakuan kita. Ketika duka datang menerpa kita, kita lebih percaya untuk berkomunikasi dengan "orang pintar" dibanding kita adukan derita kita langsung kepada Tuhan. Alih-alih melihat "tanda" dari Tuhan, hambatan ekonomis malah menjadi pembenar ketika kita menerima uang yang bukan hak kita.
Anda boleh tak setuju bahwa buku Walsch merupakan hasil komunikasinya dengan Tuhan. Anda boleh tak setuju ketika Ibn Arabi mengaku "didiktekan" Malaikat ketika menulis Futuhat al-Makkiyah, namun tak ada salahnya saya mengutip lagi isi buku Walsch, ketika "Tuhan" berkata:
"Aku bicara kepada setiap orang. Pada setiap waktu. Masalahnya bukan kepada siapa Aku bicara, tetapi siapa yang mau mendengarkan?"
Lirik "aku dirimu"
song by : DUDHY
waktu berlalu musim silih berganti
kurasakan ada ruang hampa dalam hati
sepi disini,tanpa dirimu lagi
dimanakah kini,saat rindu selimuti
pecahkan karang keakuanku,,patahkan sayap keegoanmu,,,
bersama kita melangkah laju,,,karena yang kutahu,,,langkah kita tetap satu,,,
meskipun aku,itu pula dirimu
tersekat jarak,terpisahkan ruang waktu
tangis ceria,tawa dan airma
tatak mengubah hadirmu,serangkai bersama rindu...
aku takkanlah bisa jadi sempurna
kau dan aku manusia takkan luput dari alfa
timbul tenggelam,kita tetap bertahan
merona memadamkita kan tetap bertahan
rap,,do mi fa sol
yang terangkum dikepala
selimut waktu disaat dirimu ada
memecah kebuntuan hari putaran waktu
aku dirimu bersama menyulam rindu
belive me sobatkita kan sanggup mengukir
menari mata penaku tanpa harus berfikir
meski jarak berbatas waktu berbatas hari
yang pasti story kita terlukis di dalam hati
Minggu, 30 Agustus 2009
Hikmah bersyukur, bersyukurlah
Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis.
Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya …..
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.
Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan sigap Rani menjawab, ”Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ”memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ”malaikat kecilku”.
Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ”Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Bunda, mandikan aku!” kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ”Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.” Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?” Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ”Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
– Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.
– Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.
– Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan saja dulu.
– Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.
– Pelajaran yang sangat menyedihkan.
(copy paste on ikhwah gaul)
Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya …..
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.
Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan sigap Rani menjawab, ”Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ”memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ”malaikat kecilku”.
Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ”Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Bunda, mandikan aku!” kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ”Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.” Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?” Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ”Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
– Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.
– Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.
– Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan saja dulu.
– Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.
– Pelajaran yang sangat menyedihkan.
(copy paste on ikhwah gaul)
Jumat, 28 Agustus 2009
Terima kasih untuk semua
hari ini, ingin kusampaikan untaian kalimat pada orang-orang, yang telah banyak memberikan pelajaran, hikmah dan kisah bersama.
Kepada ibuku, terima kasih atas segala kasih sayang yang diberikan.dan maaf, atas kemampuan mendengar, bukan banyak memberi pertimbangan seperti yang kau minta. Manusia mempunyai dua telinga dan satu mulut, maka manusia mungkin seharusnya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ibu, kau yang lebih tahu sebenarnya. Bagaimana akhirnya kita bisa melihat titik cerah diantara kelabu ini semua...sekali lagi, maafkan anakmu.untuk bidadari kecilku Zalfa,,maafkan bila abi mu tiada sempurna,,
Kepada ayahku, entah bagaimana aku tuliskan ini untukmu. Aku pandang engkau adalah pahlawanku dulu. Sekarang dunia telah berubah. Terima kasih atas nasehat-nasehatnya, dan ternyata hidup bukan masalah perjalanan umur, tapi kematangan berpikir dan bertindak. Maaf jika kita akhirnya harus menunda saat-saat yang kau minta. Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta salamku untuknya...
Keluaga besarku, harapan atas itu semua harus aku pikul. Mohon do’anya selalu. . Mari menanam kebaikan-kebaikan, demi tujuan yang lebih hakiki.
Guru-guruku, orang paling besar dalam membentuk diri ini. Memberikan pelajaran kehidupan dan optimisme. Tidak bisa semuanya dinilai dengan materi, terima kasih atas waktu dan ketulusannya.
Saudara-saudaraku, idealisme yang menjadikan dunia ini terang. Atas semangat dan ketulusan yang kau ajarkan, terima kasih. Dunia bukanlah hitam-putih semata, mari kita melihatnya dengan lebih dalam dan dekat yang telah Allah anugerahkan. Sehingga kecemerlangan-kecemerlangan itu hadir ditengah-tengah kita, hingga semua umat mengagungkan nama-NYA.
Sahabat-sahabatku, anugerah terindah yang pernah kumiliki. Betapa hidup tak ada suasana tanpa kalian. Terima kasih atas kepercayaan, jabat tangan dan senyum-senyumnya. Maaf atas kelakuan, sakit dan sedih yang kutinggalkan. Jangan malu untuk meminta, walaupun aku tak kuasa melakukannya. Namun, letakkanlah tanganmu diatas bahuku, biar terbagi beban itu. Esok hari kan kita jelang, dalam keteguhan hati menuju cita-cita.
Teman-teman, kebersamaan selama ini membuat banyak cerita. Dimanapun kita nantinya, ingatlah bahwa kita pernah membuat sebuah kisah klasik untuk masa depan. Jangan terlalu larut dengan masalah, tetaplah menjadi bintang di langit.
Seseorang yang mengajarkan berpikir positif, dan telah menghidupkan kerlip-kerlip hati. Mari kita ingat, manusia pada dasarnya adalah cerita bagi manusia lainnya. Sedari awal ingin kusampaikan, aku hanya manusia biasa, bukan seorang dewa. Ingin memberikan kasih dengan sederhana. Europe is world today, semoga rumah diatas gunung dibawah langit dimulai dari sana. Allah Maha Memberi Keputusan.
Hanya ini yang bisa kuberikan pada semuanya, tak kurang tak jua lebih. Saat angka bertambah dan jatah hidup berkurang, tak ada kebahagian terbesar selain mengetahui orang lain bahagia karena kita. Semoga masa depan terbentang lebih baik...
untuk ummi andriani,,afwan khilafku selama ini..
Kepada ibuku, terima kasih atas segala kasih sayang yang diberikan.dan maaf, atas kemampuan mendengar, bukan banyak memberi pertimbangan seperti yang kau minta. Manusia mempunyai dua telinga dan satu mulut, maka manusia mungkin seharusnya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ibu, kau yang lebih tahu sebenarnya. Bagaimana akhirnya kita bisa melihat titik cerah diantara kelabu ini semua...sekali lagi, maafkan anakmu.untuk bidadari kecilku Zalfa,,maafkan bila abi mu tiada sempurna,,
Kepada ayahku, entah bagaimana aku tuliskan ini untukmu. Aku pandang engkau adalah pahlawanku dulu. Sekarang dunia telah berubah. Terima kasih atas nasehat-nasehatnya, dan ternyata hidup bukan masalah perjalanan umur, tapi kematangan berpikir dan bertindak. Maaf jika kita akhirnya harus menunda saat-saat yang kau minta. Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta salamku untuknya...
Keluaga besarku, harapan atas itu semua harus aku pikul. Mohon do’anya selalu. . Mari menanam kebaikan-kebaikan, demi tujuan yang lebih hakiki.
Guru-guruku, orang paling besar dalam membentuk diri ini. Memberikan pelajaran kehidupan dan optimisme. Tidak bisa semuanya dinilai dengan materi, terima kasih atas waktu dan ketulusannya.
Saudara-saudaraku, idealisme yang menjadikan dunia ini terang. Atas semangat dan ketulusan yang kau ajarkan, terima kasih. Dunia bukanlah hitam-putih semata, mari kita melihatnya dengan lebih dalam dan dekat yang telah Allah anugerahkan. Sehingga kecemerlangan-kecemerlangan itu hadir ditengah-tengah kita, hingga semua umat mengagungkan nama-NYA.
Sahabat-sahabatku, anugerah terindah yang pernah kumiliki. Betapa hidup tak ada suasana tanpa kalian. Terima kasih atas kepercayaan, jabat tangan dan senyum-senyumnya. Maaf atas kelakuan, sakit dan sedih yang kutinggalkan. Jangan malu untuk meminta, walaupun aku tak kuasa melakukannya. Namun, letakkanlah tanganmu diatas bahuku, biar terbagi beban itu. Esok hari kan kita jelang, dalam keteguhan hati menuju cita-cita.
Teman-teman, kebersamaan selama ini membuat banyak cerita. Dimanapun kita nantinya, ingatlah bahwa kita pernah membuat sebuah kisah klasik untuk masa depan. Jangan terlalu larut dengan masalah, tetaplah menjadi bintang di langit.
Seseorang yang mengajarkan berpikir positif, dan telah menghidupkan kerlip-kerlip hati. Mari kita ingat, manusia pada dasarnya adalah cerita bagi manusia lainnya. Sedari awal ingin kusampaikan, aku hanya manusia biasa, bukan seorang dewa. Ingin memberikan kasih dengan sederhana. Europe is world today, semoga rumah diatas gunung dibawah langit dimulai dari sana. Allah Maha Memberi Keputusan.
Hanya ini yang bisa kuberikan pada semuanya, tak kurang tak jua lebih. Saat angka bertambah dan jatah hidup berkurang, tak ada kebahagian terbesar selain mengetahui orang lain bahagia karena kita. Semoga masa depan terbentang lebih baik...
untuk ummi andriani,,afwan khilafku selama ini..
Rabu, 26 Agustus 2009
Kuasa Illahi
KUASA ILLAHI.by: nanda nasyid
derai air mata, hapus canda tawasepikan hati, hampakan kembali
semua tlah hilang, tak akan terulang.tundukkan mata hatiku
peluh ratapmu kan menjadi saksi.
karena YANG ADA, PASTI KAN KEMBALI.
takdirmu kini adalah semata UJIAN dari illahi.
ya rabbi, akan ku syukurinikmat hidup yang tlah kau beri padaku.
sementara disana tumpahkan air matatangisi yakdirMu illahi.
ya rabbi tabahkanlah kami
tempuh ujian hidup yang tlah kau beri
tiada satu pun yang sanggup melebihisegala kuasaMu illahi
.dan senja berganti, kan lebih berarti
meniti langkah, jalan tuk kembali
tegarkanlah hati, kami disini meraih cintamu illahi.
derai air mata, hapus canda tawasepikan hati, hampakan kembali
semua tlah hilang, tak akan terulang.tundukkan mata hatiku
peluh ratapmu kan menjadi saksi.
karena YANG ADA, PASTI KAN KEMBALI.
takdirmu kini adalah semata UJIAN dari illahi.
ya rabbi, akan ku syukurinikmat hidup yang tlah kau beri padaku.
sementara disana tumpahkan air matatangisi yakdirMu illahi.
ya rabbi tabahkanlah kami
tempuh ujian hidup yang tlah kau beri
tiada satu pun yang sanggup melebihisegala kuasaMu illahi
.dan senja berganti, kan lebih berarti
meniti langkah, jalan tuk kembali
tegarkanlah hati, kami disini meraih cintamu illahi.
Langganan:
Postingan (Atom)