Tampilkan postingan dengan label aku dan duniaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku dan duniaku. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 April 2019

Melodious Walk

Di lembah,
berjalan mengikuti jejak pengembara 
menuju tanah lapang penuh ilalang
remah dedaunan remuk berderak di tiap langkah
sepoi kesunyian mengiring
dengan petikan dawai kangen dan rindu jauh
dari pesan yang kutinggalkan padamu
di sekelebat perjumpaan yang bisa kau ingat 
segala sesuatu yang indah darimu
kubawa menyusuri tiap liku dan tanjakan
tak perlu kusebutkan
satu - persatu seperti picisan murahan
cukup kuhadirkan dalam peluk risau yang manis-pedih
ketersesatan yang menakutkan menghantui
hantu yang tak akan ada bila kau disini 
setelah tiap batu dan lelumpur rimbun semak,
Steps will still remember our walk
yang tak pernah serentak namun beriring

Pelan namun saling mengejar
hingga arah tak lagi bermakna
dan makna tak lagi butuh arti

Our melodious walk filled with over flowing
flowering dreamsand glimmering clouds of dim melancholic sky

a little part of our heavenly stepsfull
with lark sweet symphonies as we stared infatuation tone 
of brilliant sunset floating away into the air
with your scentfloating away into my heartas the leafs dancing in the wind..

Takaran

Dia memang tak secantik Zulaikha
Itu mengapa aku memilihnya
Karena aku pun bukanlah Yusuf yang elok sempurna 


Dia tak sebanding dengan Ratu Bilqis
Sama sekali tidak
Tapi itu mengapa aku mendambanya
Karena aku juga tak sekaya Raja Sulaiman 

Ah, dia bukan Shinta
Ku tak segagah Arjuna
Bukan pula Juliet
Sebab aku tak mau main pelet

Hatiku menakar
Menimbang
Mencari potongan rusuk yang hilang

Di bawah cakrawala kah dirimu? Tetaplah di situ
Biar kujemput dengan kuda putih
derapnya beriring kecipak buih

Atau sembunyi di balik senyap kah engkau? Terdengar desahmu sengau
Berselimut semak berduri
Perih tersamarkan mawar mewangi

Kau yang pandai membaca hati
Kau yang lihai menafsir arti
Kau yang terbiasa dengan letih
Kemari bisikkan namamu lirih

Ini bahuku
Entah sekuat apa
Yang pasti cukup kuat kau tumpahi air mata

Ini mataku
Yang tak sepicing pun akan terpejam
Saat malammu gundah merajam
Temanimu hingga kantuk mengucap salam 

Tak banyak pintaku
Cukup takaran itu
Isi tempat di mana seharusnya kau ada
Lengkapilah lubang di dalam dada 

Selasa, 16 April 2019

Untuk Sebuah Nama

Kau yang ku ambil atas nama tuhanku
Sejak saat itu hingga nanti waktu terus melaju
Tak ada keraguan dan sedikitpun beban
Mesti dalam sudut hatimu timbul kekhawatiran
Padamu ku selalu pulang sebelum ku berpulang
Berjuang bersama walau berada di tepi jurang
Langkah tak beraturan yang saat ini kita tempuh
Takkan membuatku lupa padamu ku berkeluh
Kubukan arjuna di barisan pandawa lima
Kuhanya manusia biasa penuh dengan alfa
Tetaplah ingatkanku selalu temaniku
Meski kadang caraku keliru dalam memahamimu
Aku tak pandai buat rima dalam irama
Tapi kuyakin Tuhan takdirkan kita bersama
Tak ada kebetulan dan ini satu pembetulan
Walau jalan terjal terkadang kita berbenturan
Kutulis ingat tangis saat kita bersama
Dalam keterbatasan kita tetap melangkah bersama
Tak mengalah pada waktu mesti rapuh mengayuh
Bersama kita lewati walau bercucur peluh
Kadang kita berpuasa untuk capai satu asa
Selalu bermufakat bergenggaman satu rasa
Hingga kita yakin akan temukan mercusuar
Yang akan terangi dengan sinar yang berpijar
Belajar saling fahami semua sisi
Dalam keterbatasan diri yang kadang tak kau mengerti
Mengarti dalam diam meski tanpa bahasa
Kutahu kita selalu bersandar pada jutaan doa
Selalu yakin di hati bahwa arti sebuah hebat
Adalah adanya kamu membuatku kuat
Bertubi halangan dengan beribu tamparan
Tak pernah kau jauh selalu ada bagai sebuah sandaran
Tak ada masa lalu bagi kita hanya masa depan
Langkah hari ini dan mimpi besar menjadi acuan
Lupakan, jangan jadikan itu cemas
Bagiku kau lebih berharga dari kilau emas
Aku selalu berusaha memberi yang terbaik
Walau harus kuakui aku bukan orang baik
Bermimpi setinggi langit, mengepal menentang awan
Demi sebuah masa depan bahagia kita dapatkan
Setiap saat kuselalu coba cari peluang
Kau selalu ingatkan hidup bukan hanya soal uang
Totalitas, loyalitas langkahku menembus batas
sampai tuntas takkan puas hingga sampai titik pantas
Bergegas, tak lelah terus kan ku kayuh
Bakar semangat melaju bagi angin puyuh
Bagiku hadirmu adalah serupa gemintang
Menuju masa depan berharap terang gemilang

Prosa Kopi Secawan

Angkat pena, satu persatu kisah yang kuingat
memori berjalan sampai detik ini masih melekat
saat separuh diri dan duniaku di kuasai hasrat
menebus putaran waktu diantara penat
Berangkat, bertumbuh meski dalam rapuh
berdiri diatas kaki lemah ajarkanku arti tangguh
dibawah langit luas saat lelah aku berteduh
aku patuh takkan luluh semangatku takkan runtuh
Dalam hidup semua kumulai dari belajar
kombinasi akal dan fikiranku berdiri sejajar
tak gentar, ditampar pilu yang berjajar
sejauh langkah kaki ku mencoba untuk mengejar
Kusadari kanan kiri pedang terhunus
tanpa kamus, rimaku takkan lumpuh bagai lupus
hidup memang misterius bagaikan deretan rumus
ku tak butuh standing aplouse dan kalian data bagai sensus

Ku tak butuh pengakuan dalam sebuah pentas
saat lika liku hidup perlahan mulai kutebas
mengeras, bergegas bagai kawanan hewan buas
lembar demi lembar kanvas, kan kuukir dengan kuas
Dan luas, hamparan laut telah kutiti
rimbunan belantara hutan telah kujelajahi
kini aku kembali disini aku berdiri
saat kau anggap kumati, dalam diam kuamati
cermati, sekecil apapun peluang
karena ku bukan pecundang, kumasih bisa berjuang
isi ruan, dimulus aspal dan berlubang
Kalian sesuka hati, bisa datang lalu pergi
hanya sedikit kawan dan keluarga semangati
buatku berbersar hati, tempaanpun kuselami
hingga tiba saatnya nanti, kubisa lemparkan bukti

Waktupun berlalu perlahan sinar berpijar
kuingati setiap rotasi saat aku terdampar
berbekal banyak restu, barisan doa jadi pandu
kasih keluarga dan kawan baik jadi candu
Kususun komposisi dan mulai bereksplorasi
hiraukan tatap sinis, buang semua caci maki
bangun rima dengan kenyal, tanpa harus ku mengkhayal
tanpa harus ku membual, membuat kalian terjungkal
Persetan dengan persepsi, juga seluruh asumsi
yang kubutuhkan esensi, bagaikan secawan kopi
lu kan tetap berjalan,takkan lelah kuberguru
walau jalanan berbatu, dari hilir sampai hulu
Kutetap empati dan kuhindari parang
beradu metafor pun ku tak berarti berperang
terimakasih penuh kasih untuk klian terkasih
dari hatiku yang bersih, aku yang pernah tersisih.

Bandung, April 2019

Senin, 19 Maret 2012

Melodious Walk


di lembah,
berjalan mengikuti jejak pengembara 
menuju tanah lapang penuh ilalang
remah dedaunan remuk berderak di tiap langkah
sepoi kesunyian mengiring
dengan petikan dawai kangen dan rindu jauh
dari pesan yang kutinggalkan padamu
di sekelebat perjumpaan yang bisa kau ingat 
segala sesuatu yang indah darimu
kubawa menyusuri tiap liku dan tanjakan
tak perlu kusebutkan
satu - persatu seperti picisan murahan
cukup kuhadirkan dalam peluk risau yang manis-pedih
ketersesatan yang menakutkan menghantui
hantu yang tak akan ada bila kau disini 
setelah tiap batu dan lelumpurrimbun semak,

steps will still remember our walkyang tak pernah serentaknamun beriring

pelan namun saling mengejar
hingga arah tak lagi bermaknadan makna tak lagi butuh arti

our melodious walk filled with over flowing
flowering dreamsand glimmering clouds of dim melancholic sky

a little part of our heavenly stepsfull
with lark sweet symphonies as we stared infatuation tone of brilliant sunset floating away into the air with your scentfloating away into my heartas the leafs dancing in the wind

Rabu, 08 Februari 2012

Tulisan dari semangkuk bubur..

sejuk benar udara di tempat ini,,
semilir angin nya memanjakan diri hingga serasa mataku ingin terlipat saja,
padahal aku baru saja terjaga dari mati sementaraku semalam.
di tanganku semangkuk bubur hangat menemani pagi ini.
Fabii aii I Robikhuma Tukadziban..


di lintasan lain terlihat bocah-bocah berlarian dengan baju kumal nya,,
sepertinya sudah sekian hari mereka tidak mandi..
masih dengan semangkuk bubur di genggaman aku perhatikan laku mereka,,
polos,,seakan tak hiraukan masa depan mereka kelak!!!,,
apa isi kepala orang tua mereka hingga menjadikan mereka ladang koin dan kertas bernominal??
lebih bedebah dari seekor binatang sekalipun!!!,,cetusku dalam hati..


masih tak jauh dari tempat ku duduk bersila,,
segerombol musisi jalanan berkeliling mengais rupiah..
dengan nyanyian yang kadang tak jelas artikulasi dan intonasi nya,,
ah apapun itu,namanya juga usaha,,hehe
inilah hidup sebenarnya,,mesti baru hanya sedikit saja yang ku telaah,,
suasana di tempat ini mengajarkan ku banyak hal yang tak tertulis baku di buku apapun..


sakit telah mengajarkan kita banyak hal..
airmata telah memberikan kita berjuta makna..
masa lalu telah meberikan kita cermin yang teramat besar,,
bahwasanya dari semuanya itu...
kadang duka memiliki wejangan yang jauh lebih bermakna.
Dan tidak akan ada yang sia-sia pada akhirnya..


sejurus kemudian,,kulanjutkan saja langkah kelana ku di hari ini,
menjadi musafir abal-anal mengitari kota kelahiranku,,
yang lama sekali kutahu tapi tak berarti kukenali..
ku tarik kembali handle matic ku di dataran datar bekas Paris Van Java.
Mencari apapun yang bukan dengan sengaja kucari,,
memaknai sesuatu yang tak mudah terdefinisi,
dan merajut mainset ku kembali yang sempat kusut,
dan sesungguhnya..
Hidup ini hanyalah perjalanan bak seorang musafir semata..
setidaknya itulah yang kufahami,,entah dengan kalian..


tepi jalanan Bandung 07 februari 2012

Minggu, 05 Februari 2012

Dialog dua hati

di selasar rumah sederhana itu ,di penghujung Januari 2012,,

anak ,,
Bu,,aku takut dan semakin takut saja berdiam lebih lama di sini..
terlalu sempit untuk bijak dan terlalu pekat untuk ku tambahkan tinta berwarna cerah,,
aku takut bu,,sungguh takut yang semakin akut saja merajai jiwa

Ibu,,
ananda,,ibumu ini tahu siapa kau dan bagaimana dirimu,,
tak mudah menilai dirimu,,terlalu tegaskah atau keras kepala lah atau idealiskah,,
sudut pandang dan definisi setiap kepala akan berbeda-beda anakku
apapun itu,,yang Ibumu tahu adalh kau punya Tiang yang kokoh dalam berprinsip,,
ingatkah ananda saat kecil dulu???
engkau memang beda anakku,,sampai Ibumu sendiri pun tak pernah bisa membaca jelas
apa yang ada di dalam isi kepalamu,,,Penuh Kejutan..
ananda perhatikan ujung jari tengah kirimu,,itu adalah buah dari kekokohan mu memandang
sederhana hidup,,padahal usiamu belum genap 8 tahun saat itu..
begelantungan di KRD menjajakan es the manis yang kau bawa dari bandar di gang depan sana!!,,
jari mu terhimpit pintu kereta hingga berbekas hingga saat ini,,
dan lihatlah paha kiri kakimu!!!,,
disana ada jejak sisa gigitan Anjing-anjing kampung yang mengepungmu saat kau jajakan roti ke kampung-kampung sebelah,,sampai tak sadarkan beberapa hari di rumah sakit hingga mulutmu berbusa..
dan itupun berbekas bukan???
padahal Ibu tak pernah mngizinkan engkau seperti itu selepas pulang sekolah,,
karena kami orang tua mu masih sangat sanggup membiayai keperluanmu..
itu pun salah satu buah dari cara pandangmu yang berbeda dari anak-anak seusiamu dulu..

Anak,,
disini terlalu banyak iblis nermuka malaikat bu,,,
terlalu banyak bu,,anakmu ini tak sanggup merasa terasin meski terlihat wajar-wajar saja,,
tapi hati kecil ini tak bisa di bohongi Bu,,anakmu ini sudah di ujung lelah..
apalagi ditambah sakit ku yang semakin hari semakin ringkih saja Bu,,
rasanya terasa semakin berat saja berjalan di lumpur ini tanpa alas kaki..

Ibu,,
apakah kau akan menyerah begitu saja anakku???
Ibu dan keluargamu memang tak bisa banyak membantu saat ini,,
tapi ingatkah ayat favoritmu yang kerap kau kutip dulu sepulang dari langgar selepas maghrib??
FABI AII ALA'I ROBIKHUMA TUKADZIBAN???
bukankan main set berfikirmu salah satu nya terbentuk dari ayat itu??
lalu kenapa sekarang kau ingin menyerah kalah???
rasanya Ibumu tak pernah melahirkanmu untuk menjadi seorang PECUNDANG,,
aku melahirkanmu dan berharap kau dapat menjadi PEMENANG,,
setidaknya kau dapat memenangkan pertarungan di hatimu sendiri anakku..
Ibu tahu beratnya beban yang kau pikul,,ibu tahu airmatamu sudah semakin mengering saja,,
dan Ibu tahu kau seolah tanpa lelah menjelajah resah meskipun sesekali kau tampak payah nak,,..
bahkan eyang mu sendiri selalu mewanti-wanti Ibumu ini dari kejauhan sana untuk selalu memberikanmu
semangat untuk bertahan,,karena Ibu yakin kau akan menjadi SANG JUARA pada saatnya kelak..
VONIS itu hanyalah perkara medis semata,,tak lantas kau harus menyerah setelah melewati ribuan gundah..
ah rasanya itu bukan sifatmu Nak,,,
yang Ibu tahu,,kau hanya perlu waktu beberapa saat untuk rehat...cukup itu saja..

Anak,,
Racun dunia ini telah membius ku bu,,
tak banyak opsi yang bisa kupilih,
sampai ayat-ayatNya pun sudah jarang ku baca Bu,,
futur ku sudah sampai di stadium tingkat tinggi ,,
aku benci hidup ini bu!!,,ini tidak adil rasanya bagiku..
ya,,kalaupun aku memang sadar pasti itu buah dari apa yang kulakukan juga Bu,,..
Ringkihku semakin perih,,dan Gundahpun semakin membuncah parah Bu,..

Ibu,, ( seraya melepas mukena putih yang sedari tadi melekat di tubuhnya )
Istigfar Anakku,,Rabb tahu lebih dari apa yang kita tahu,,
jangan sampai kau gadaikan aqidah hanya karena kau mulai merasa dberada i ujung menyerah,..
skenario nya maha indah jika kau tetap mengenakan pakaian sabar..
Ibu tahu tahun-tahun terakhir ini sungguh sangat berat bagimu,,
bahkan airmata Ibu mu pun terasa sudah sangat sulit menetes karena tak tega melihatmu,,
tapi inilah hidup anakku!!!
Nuansa yang mau tidak mau harus kau jawab dengan sempurna di ujungnya,,
dan kalaupun satu saat nanti ananda pergi terlebih dahulu,,
bukankah setiap yang bernafas itu akan menemui AJAL nya??
QULLUN NAFSIN DZA IQOTULL MAUT,,
Ibu ingin melepasmu dengan sekalung bangga,,gahwa sampai saat terakhirpun
Ibu yakin kau akan tetap bisa bertahan,,
ini bukan sakit pertama kali yang kau hadapi anakku,,bahkan cara fikirmu sudah jauh melebihi
usiamu sesungguhnya,,
sakit raga dan jiwamu telah membentukmu manjadi baja tangguh di atas panggung dunia yang tak lagi utuh.
Jangan lah menyerah semudah itu anakku,,
tiada guna mengecam dunia,,tidak akan memberikan apapun padamu selain dendam..
jangan marah..jangan marah..jangan marah!!
kalaupun kau hendak marah,,
marahlah pada kertas atau apapun kanvas yang bisa kau tumpahkan marahmu disana melalui tulisan..
marahlah pada deretan lagu dan nyanyikanlah di alam bebas,,
Bukankah selama ini seperti itu???
seperti itu pulalah setahu Ibu jika kau marah anakku,,dari kecil hingga se dewasa ini tak berubah..
di tembok,di kertas di manapaun tempat yang bisa membuatmu nyaman..
kau pilihlah tempat yang kau suka anakku,,
di gunung,di laut,di selasar masjid raya atau dimanapun kau mau,,
tapi jangan tumpahkan marahmu pada manusia dan mahluk tuhan lainnya,,
camkan itu..karena Ibu takkan restui itu..

Anak,,
Bu,,aku ingin pergi saja dari sini sebelum dunia mengusirku secara paksa lewat segala indera,.
Bolehkah Bu???
aku sudah sangat lelah bu,,sungguh sangat lelah..

Ibu,,
Ingatlah anakku,,hidup bukanlah tujuan
dia hanyalah kendaraan menuju hidup sebenarnya,
jadi,beristirahatlah di kala lelah dan berjalanlah kembali disaat kau sanggup untuk berjalan..
Ibu sendiri masih ingat jelas sebaris coretan mu semasa SMA dulu..
JALAN KELUAR BUKAN DI UJUNG PELURU..
dan tanamkan hal itu di jiwamu anakku,,
Ibu melahirkanmu bukan untuk menjadi pecundang,,
Ibu melahirkanmu bukan untuk menjadi kalah tanpa melawan,,
Ibu melahirkanmu bukan untuk menjadi pengecut..
bacalah kembali catatan2 mu yang kau buang,,
sengaja Ibu simpan rapih agar kau bisa membacanya kembali..
Ibu melahirkanmu untuk menjadi PEMENANG,,
maka..
jadilah PEMENANG meskipun dialam pandangan dunia kau kalah ..
tapi hakikatnya kau akan tetap menjadi PEMENANG
basuhlah airmatamu,,balut sayatan dan robekan sakit hatimu,,
maafkan siapapun itu,dan meminta maaflah sebagai pertanda kau seorang KSATRIA..
Ksatria tak perlu parang dan senjata,,
Ksatria tak harus bermahkota dan berkendara kereta kencana..
Ksatria adalah yang mempunyai cadangan MAAF seluas bumi,air dan angkasa ..
cukup itu saja..

Anak,,
terimakasih bu,,semoga kelak ku bisa membuatmu bangga telah melahirkaku..

dan akhirnya sang anak beranjak pergi kembali mencari dunianya
merentas jalanan basah Bandung hingga fajar menjelang,di balik kemudi angkutan umum hijau PLAT D 19** AD


Bandung,29 Januari 2012 @ 21:00 ..

Tarian pena tanpa tema

tungku pembakaran semangat sudah hampir kehabisan arang
menyisir kembali jalanan basah tanpa pastinya tujuan
kalah,menyerah,lelah seolah memapah ke tepi jengah..
kecut hadapi tindasan waktu yang seolah menikam kejam..
hampir tak terlukis deretan berjuta kata2 bak pujangga..

langit itu sama halnya langit hari kemarin..
kelabu,,pucat dan masih tumpahkan hujan..
berjuta logika pembenaran yang kandas berserakan.
Bak ceceran sampah di sepanjang jejak basah langkah..
entah dimana temapt hitam,putih,abu itu berada..

apakah ada harapan kembali terbentang di depan ku??
di hamparan asa tersisa bergumul antara amarah,bijak dan dendam..
membuncah membentuk ku menjadi sesosok yang asing bahkan bagiku sendiri..
di terminal sabar yang sudah mulai sepi armada berjajar..
di sanalah kini aku berdiri lelah,,payah,,mesi tak berarti kalah..
tapi berada di ujung resah....

enyahlah hai koloni pembunuh semangat..
biarkan aku berlari dan menari kembali dengan senyum tullusku,,
tak ingin canvas ku sesak coretan coretan hitam kelam..
luapan emosi tak tertahan,,amarah tak terarah..
menusukku bagai busur panah yang tak jelas arah..

silahkan,,
silahkan tempatkan coretan ini dimanapun anda mau..
silahkan definisikan sendiri esensi coretan tanpa makna ini..
nilai sendiri atau buku kan dalam raport merah tulisan ku
atau lupakan sejurus setelah semua tuntas terbaca..
atau bahkan jangan di baca sama sekali!!...

aku lelah..
aku jengah..
aku berbalut amarah..
namun semua tak berarti aku menyerah..
lantas...
KALAH...
8-01-2012

Rest In Peace

Januari 2011  kita bersua denganmu teman bermainku!!
usia mu belum genap 1 bulan saat itu
dimana sesak berjejal diantara kerumunan pedagang..
menelisik kakikaki telanjang yang menginjak..
akhirnya kau berpindah tangan padaku..

di sana kita kadang menghabiskan hari..
di selasar rumahk mungilku,,bersama semilir angin belai bulu lembutmu
aku melihat mu seraya membelaimu
sosok kecil nan lucu
ya..itu kau,,.hamie kecil ku

kini setahun berlalu
dunia bermain kita masih sama
dimana kita habiskan berjam jam untuk bersenang-senang
menelaah setiap tingkah mu yang membuatku melepas senyum
tak ingin berpisah denganmu teman..

namun waktu hanyalah waktu
tepat setahun kita bersua akhirnyakau pergi jua
melepas sisa nafas menyusui di antara kerumun anak2mu..
seolah itulah kasih terakhirmu untuk
penerus generasimu selanjutnya..
dan akhirnya kau harus berpulang..

seuntai doa ku untukmu
tenanglah di sana..
bermainlah disana bersama malaikat2 penjaga surga
tempatmu akan lebih megah disana,,
semoga kita dapat bersua di kesempatan
yang lebih sempurna..

selamat jalan kawan
aku akan selalu merindukanmu..
dan akan ku rawat semua keturunanmu
seperti halnya aku merawatmu dulu..

Inallihi Wa Ina Illahi Rodziun
rest in PeaceBANDUNG 5 JANUARI 2012 ( selepas FAJAR )

Jumat, 14 Januari 2011

Tentang Menulis

Rasanya sudah cukup banyak ulasan tentang penulis pemula. Setiap saat membicarakan penulis, maka dalam bahasan tersebut selalu terselip tentang penulis pemula. Tapi, Anda mungkin tidak bosan untuk membaca lagi ulasan tentang penulis pemula ini.
Dunia tulis menulis sudah menjadi pengharapan banyak orang. Cukup banyak orang yang terjun menekuni profesi sebagai penulis. Profesi penulis masih terbuka luas dan sangat mudah untuk dapat menjadi penulis.

Siapakah Penulis Pemula Itu?

Jika Anda membicarakan tentang penulis pemula, siapakah yang sebenarnya sedang kita bicarakan? Seberapakah tingkat pemulanya seorang penulis? Bilamana seseorang dikatakan sebagai penulis pemula?
Mungkin sebuah kesulitan tersendiri jika membicarakan tentang penulis pemula. Belum ada batasan yang jelas mengenai kriteria penulis pemula. Sebatas apakah seseorang dikatakan sebagai penulis pemula.
Jika di telaah secara terbuka, maka penulis pemula adalah seseorang yang mulai menekuni profesi sebagai penulis. Orang-orang ini masih berlatih atau sudah mulai mempublikasikan di media massa. Kemampuan mereka menulis masih dalam kelompok awal.
Orang-orang dalam kelompok ini berusaha mengembangkan kompetensi diri dan menunjukkannya kepada masyarakat dalam bentuk karya tulis. Karya tulis inilah yang menjadi acuan seseorang menjadi penulis pemula.

Kesempatan Membangun Karakter Diri

Sebagai pemula, penulis mencoba untuk membangun sebuah kondisi khusus terkait dengan profesi yang ada. Dengan kemampuannya menulis, maka para penulis pemula ini berusaha tampil ekstra hati-hati. Mereka terus mencoba untuk mengembangkan diri dengan karakter tertentu.
Penulis pemula itu ibaratnya anak muda yang sedang mencari jati diri. Mereka terus berusaha mencari sesuatu yang dapat mendukung eksistensi dirinya dalam kehidupan. Salah satunya adalah secara kontinyu menulis segala hal dan terus mengirimkan media massa. Walaupun seringkali ditolak untuk diterbitkan.
Dengan secara intens melakukan proses penulisan, para penulis pemula ini mencoba untuk membangun karakter dirinya. Mereka mencoba untuk menunjukkan kepada masyarakat kemampuannya di bidang tulis menulis.
Begitu gigihnya penulis pemula mengembangkan diri. Mereka menciptakan tulisan-tulisan dan berharap dari tulisan tersebut masyarakat dapat mengakuinya sebagai penulis, tanpa ada embel-embel pemula lagi. Inilah karakter yang ingin dicapai nanti. Mereka ingin membangun karakter khas untuk dirinya.

Kesempatan Untuk Eksis

Para penulis pemula ini membutuhkan kesempatan untuk eksis. Mereka membutuhkan dukungan konkrit untuk lebih konsisten dalam bidang tulis menulis. Dengan dukungan konkrit ini, maka mereka berharap ada respon positif masyarakat. Respon positif masyarakat inilah yang sangat dibutuhkan para penulis pemula.
Para penulis pemula berusaha untuk mendapatkan pengakuan masyarakat atas prestasi atau hasil karyanya. Ini merupakan kesempatan yang sangat ditunggu-tunggu. Oleh karena itulah, maka para penulis pemula tidak pernah berhenti berkreasi dalam hidupnya.
Mereka membutuhkan kesempatan untuk menunjukkan eksistensi diri dalam bidang tulisan. Walaupun pada kenyataannya mereka seringkali mengalami hambatan dalam mewujudkan impian tersebut. Hal ini karena kesempatan yang begitu sulit didapatkan. Seringkali mereka harus kecewa saat menyadari bahwa karya tulisan mereka sama sekali tidak digubris para redaktur.
Berilah kesempatan kepada para penulis pemula, maka mereka akan berkiprah secara maksimal dalam bidang tersebut. Ada banyak penulis yang mampu melejitkan karya setelah mereka tersia-sia karena tidak digubris oleh penerbit yang ada.
Bicara tentang penulis pemula memang membutuhkan hati dan jiwa yang lapang. Anda harus memberikan mereka kesempatan, maka mereka pasti berkembang pesat. Lantas, mengapa kesempatan itu begitu sulit untuk didapatkan?

Kamis, 28 Oktober 2010

Puisi Terakhir

ketika ku rasa lelah tanganku menulis dan fasih sudah ku bicara
maka ku gantung penaku di depan komputerku
lalu berhenti merangkai kata

sudah terlalu banyak
aku takut nanti kau bosan

malam ini langit tak lagi ku gores
tapi ku undang bintang berbincang bersamaku
meski tak merdu menggema aku tetap belajar memakna harihari

puisi terakhir,
romantisme sebuah masa
di mana aku lebih memilih diam dan memahami kesunyian
dengar aku bicara dan jangan lagi membaca tulisanku
karena kata kata ternyata tak mengarti terlalu banyak

airmata ini sudah tak ada lagi,..apa karena terlalu perih hati ini, aku tak tahu.
kau blg akan bersamaku,..tp hatimu berkata lain.
Ak sadar...sadar dan sesadar-sadarnya...
dgn besar hati ak relakanmu kembali padanya

Terima kasih cinta,...kau telah membuatku lebih dewasa..

Senin, 10 Mei 2010

Selamat Hari Lahir Bintang Kecil-ku

Alhamdulillaaah..
Hari ini genap 4 tahun usia anakku, Zalfa Thufailah Erlanda

Semoga barokah dan bermanfaat usiamu yaa.. nak..
Semoga terpelihara senantiasa langkahmu..
Semoga jadi anak alimah sholehah..
Manfaat dunia akhirat..
Ahli harta ahli ilmu ahli surga..
Aameenn..

4 tahun yang lalu..

Menimang dia yang bayi mungil cantik..
3,1 kg dengan panjang 51 cm
Maha Suci ALLAH yang menciptakan anakku..
Sehat lengkap jasmani rohani..
Alhamdulillaaahh.. tak henti bertahmid padaNYA..

Kini, engkau mulai beranjak menuju fase bermainmu,,fase anak@.

Semoga ALLAH senantiasa menjaga dan melindungimu..
Sehingga engkau menjadi salah satu perhiasan dunia..
Wanita sholihah yang menyejukkan hati..
Dan kelak kau akan mengerti tentang semua yang terjadi..
Padamu serta ayah bundamu.


Dan kelak di hari akhir..
Semoga engkau menjadi bidadari penghuni surgawi..
Kekal abadi dengan iman yang terukir di hati..
Aameen.. aameen.. ya Rabbal Alaameen..
Semoga Abi mu ini dapat memberikan yang terbaik untukmu bidadari kecilku..

Minggu, 27 Desember 2009

kepada diriku,,kubertanya...

Wahai diri!
Di mana dirimu yang rajin mengaji?
Kenapa jarang kudengar lagi lantunan ayat-ayat darimu?
Kenapa jarang kulihat kau sentuh kitab sucimu?

Wahai diri!
Di mana dirimu yang gemar berjama’ah?
Kenapa di shaf longgar itu tak lagi kutemukan kau dengan mudah?
Kenapa tak kudengar lagi dzikirmu di masjid dan mushalla?

Rabu, 02 Desember 2009

Untuk Bidadari Kecilku

Anakku ........ engkaulah buah hatiku.
Kasih sayangku padamu tak terkikis oleh erosi zaman.
Kuselalu memandang wajahmu yang damai ....
Ketika engkau sedang tidur.
Aku tersenyum melihat senyummu, engkau pasti bermimpi indah.
Anakku ........
Aku selalu merasa bahagia mendengar ceria candamu,
Aku sering merasa cemas mendengar langkahmu berlari,
Aku takut engkau terjatuh,
Jantungku berdegup mendengar isak tangismu.
Aku tak ingin kau bersedih, aku tak ingin engkau dilanda nestapa.
Anakku ........
Kelak engkau beranjak dewasa, dan aku mulai tua dan pikun.
Tak banyak yang aku pinta.
Tetaplah sabar dan cobalah mengerti tentang diriku.
Kalau aku berlepotan ketika makan .... bersabarlah,
kenang saja ketika aku selalu mengajarimu tentang kebersihan.
Jika aku mengatakan hal yang sama ribuan kali kepadamu .... bersabarlah,
kenang saja ketika aku membacakan cerita yang sama ribuan kali sampai engkau tertidur.
Kalau aku tidak mau mandi, jangan salahkan atau marahi diriku,
kenang saja ketika aku membujukmu dengan seribu alasan agar engkau mau pergi mandi.
Kalau bicaraku melantur, janganlah gugup .... yang terpenting bukanlah omonganku, tapi
aku tetap bersamamu, yang mendengarkan kata-kataku.
Bila kakiku sudah berat untuk melangkah, jangan paksa aku berjalan,
ulurkan saja kedua tanganmu,
seperti aku lakukan ketika membimbingmu pada langkah pertamamu.
Suatu hari nanti kau akan tahu, di samping kesalahan-kesalahanku ..... aku ingin melakukan yang terbaik untukmu ... untuk jalan hidupmu.
Kau tak harus merasa sedih, marah atau tak berdaya melihat aku di sampingmu.
Cobalah untuk mengerti dan bantulah diriku,
seperti yang aku lakukan padamu ketika engkau memulai hidup ini.
Bila di suatu masa nanti aku berkata aku tak ingin hidup lebih lama lagi,
janganlah bersedih, cobalah faham ..........................
usia bagiku bukanlah hidup tapi hanyalah bertahan hidup.
Bantulah aku berjalan, tolonglah aku pada akhir hayatku.
Aku akan memberimu senyum dan cinta tak terhingga,
yang selalu kumiliki hanya untukmu.
Selamat tidur anakku, semoga Tuhan tetap bersamamu selalu...
"kelak kau akan mengerti apa yang terjadi saat ini...."
.....tingkle,,tingkle litle stal,,,,,,,itu lagu yang kau nyanyikan td malam sebelum tidur untuk mengusir lelah Abi mu ini,..."
meski dengan aksen kurang jelas anakku....
Ya Rabb lindungi buah hatiku selalu......

dedicated to : ZALFA THUFAILAH ERLANDA...

Senin, 12 Oktober 2009

Tenanglah disana dik

Dik …
Sepenuhnya hatiku berwarna
Disaat nuansa jingga saat petang kita bersama
Menghabisi semilir detik kehidupan
Mengarungi samudera suka dan duka

Terlebih, dik, … terkasih …
Ketika pelitamu memberikan pijar di kegelapanku
Menuntun kemana arah mataku memandang
Hingga hindari setiap petaka yang datang

Terkadang, haru biru menghiasi pelangi hati,
Dan terkadang pula, merah membakar kecemburuan
Malah, tak lekang kabut menutup pelangi di hati ini
Tetapi … jemari hati cintamu membelai halus kisi hatiku

Jikalau saat ku kering dan haus
Mengembara di sahara tanpa setitik embun
Senyum sang bunga, selalu membiaskan kekeringan
Hingga lupa akan derita dalam penderitaan

Dik, …
Jagalah pelangi yang berwarna selalu untukku
Sampai akhir hayatku saat bersamamu
Karena aku tak suka matahari
Yang selalu panas menusuk di sanubari

Padamu, dik, di peraduan berbatu nisan
Pelangimu kian hidup dan terus menyala
Walau dirimu telah pergi jauh dan tak kembali
Menghadap sang pencipta ilahi robbi …

dedicated to AURA NABILA,,tenanglah disana,,,maafkan kakakmu ini bila tiada sering berkunjung ke pusaramu,,,tapi doa kami senantiasa terhulur untukmu,,,love u my sis!!!!