Minggu, 05 Februari 2012

Tarian pena tanpa tema

tungku pembakaran semangat sudah hampir kehabisan arang
menyisir kembali jalanan basah tanpa pastinya tujuan
kalah,menyerah,lelah seolah memapah ke tepi jengah..
kecut hadapi tindasan waktu yang seolah menikam kejam..
hampir tak terlukis deretan berjuta kata2 bak pujangga..

langit itu sama halnya langit hari kemarin..
kelabu,,pucat dan masih tumpahkan hujan..
berjuta logika pembenaran yang kandas berserakan.
Bak ceceran sampah di sepanjang jejak basah langkah..
entah dimana temapt hitam,putih,abu itu berada..

apakah ada harapan kembali terbentang di depan ku??
di hamparan asa tersisa bergumul antara amarah,bijak dan dendam..
membuncah membentuk ku menjadi sesosok yang asing bahkan bagiku sendiri..
di terminal sabar yang sudah mulai sepi armada berjajar..
di sanalah kini aku berdiri lelah,,payah,,mesi tak berarti kalah..
tapi berada di ujung resah....

enyahlah hai koloni pembunuh semangat..
biarkan aku berlari dan menari kembali dengan senyum tullusku,,
tak ingin canvas ku sesak coretan coretan hitam kelam..
luapan emosi tak tertahan,,amarah tak terarah..
menusukku bagai busur panah yang tak jelas arah..

silahkan,,
silahkan tempatkan coretan ini dimanapun anda mau..
silahkan definisikan sendiri esensi coretan tanpa makna ini..
nilai sendiri atau buku kan dalam raport merah tulisan ku
atau lupakan sejurus setelah semua tuntas terbaca..
atau bahkan jangan di baca sama sekali!!...

aku lelah..
aku jengah..
aku berbalut amarah..
namun semua tak berarti aku menyerah..
lantas...
KALAH...
8-01-2012

Rest In Peace

Januari 2011  kita bersua denganmu teman bermainku!!
usia mu belum genap 1 bulan saat itu
dimana sesak berjejal diantara kerumunan pedagang..
menelisik kakikaki telanjang yang menginjak..
akhirnya kau berpindah tangan padaku..

di sana kita kadang menghabiskan hari..
di selasar rumahk mungilku,,bersama semilir angin belai bulu lembutmu
aku melihat mu seraya membelaimu
sosok kecil nan lucu
ya..itu kau,,.hamie kecil ku

kini setahun berlalu
dunia bermain kita masih sama
dimana kita habiskan berjam jam untuk bersenang-senang
menelaah setiap tingkah mu yang membuatku melepas senyum
tak ingin berpisah denganmu teman..

namun waktu hanyalah waktu
tepat setahun kita bersua akhirnyakau pergi jua
melepas sisa nafas menyusui di antara kerumun anak2mu..
seolah itulah kasih terakhirmu untuk
penerus generasimu selanjutnya..
dan akhirnya kau harus berpulang..

seuntai doa ku untukmu
tenanglah di sana..
bermainlah disana bersama malaikat2 penjaga surga
tempatmu akan lebih megah disana,,
semoga kita dapat bersua di kesempatan
yang lebih sempurna..

selamat jalan kawan
aku akan selalu merindukanmu..
dan akan ku rawat semua keturunanmu
seperti halnya aku merawatmu dulu..

Inallihi Wa Ina Illahi Rodziun
rest in PeaceBANDUNG 5 JANUARI 2012 ( selepas FAJAR )

Jumat, 14 Januari 2011

Tentang Menulis

Rasanya sudah cukup banyak ulasan tentang penulis pemula. Setiap saat membicarakan penulis, maka dalam bahasan tersebut selalu terselip tentang penulis pemula. Tapi, Anda mungkin tidak bosan untuk membaca lagi ulasan tentang penulis pemula ini.
Dunia tulis menulis sudah menjadi pengharapan banyak orang. Cukup banyak orang yang terjun menekuni profesi sebagai penulis. Profesi penulis masih terbuka luas dan sangat mudah untuk dapat menjadi penulis.

Siapakah Penulis Pemula Itu?

Jika Anda membicarakan tentang penulis pemula, siapakah yang sebenarnya sedang kita bicarakan? Seberapakah tingkat pemulanya seorang penulis? Bilamana seseorang dikatakan sebagai penulis pemula?
Mungkin sebuah kesulitan tersendiri jika membicarakan tentang penulis pemula. Belum ada batasan yang jelas mengenai kriteria penulis pemula. Sebatas apakah seseorang dikatakan sebagai penulis pemula.
Jika di telaah secara terbuka, maka penulis pemula adalah seseorang yang mulai menekuni profesi sebagai penulis. Orang-orang ini masih berlatih atau sudah mulai mempublikasikan di media massa. Kemampuan mereka menulis masih dalam kelompok awal.
Orang-orang dalam kelompok ini berusaha mengembangkan kompetensi diri dan menunjukkannya kepada masyarakat dalam bentuk karya tulis. Karya tulis inilah yang menjadi acuan seseorang menjadi penulis pemula.

Kesempatan Membangun Karakter Diri

Sebagai pemula, penulis mencoba untuk membangun sebuah kondisi khusus terkait dengan profesi yang ada. Dengan kemampuannya menulis, maka para penulis pemula ini berusaha tampil ekstra hati-hati. Mereka terus mencoba untuk mengembangkan diri dengan karakter tertentu.
Penulis pemula itu ibaratnya anak muda yang sedang mencari jati diri. Mereka terus berusaha mencari sesuatu yang dapat mendukung eksistensi dirinya dalam kehidupan. Salah satunya adalah secara kontinyu menulis segala hal dan terus mengirimkan media massa. Walaupun seringkali ditolak untuk diterbitkan.
Dengan secara intens melakukan proses penulisan, para penulis pemula ini mencoba untuk membangun karakter dirinya. Mereka mencoba untuk menunjukkan kepada masyarakat kemampuannya di bidang tulis menulis.
Begitu gigihnya penulis pemula mengembangkan diri. Mereka menciptakan tulisan-tulisan dan berharap dari tulisan tersebut masyarakat dapat mengakuinya sebagai penulis, tanpa ada embel-embel pemula lagi. Inilah karakter yang ingin dicapai nanti. Mereka ingin membangun karakter khas untuk dirinya.

Kesempatan Untuk Eksis

Para penulis pemula ini membutuhkan kesempatan untuk eksis. Mereka membutuhkan dukungan konkrit untuk lebih konsisten dalam bidang tulis menulis. Dengan dukungan konkrit ini, maka mereka berharap ada respon positif masyarakat. Respon positif masyarakat inilah yang sangat dibutuhkan para penulis pemula.
Para penulis pemula berusaha untuk mendapatkan pengakuan masyarakat atas prestasi atau hasil karyanya. Ini merupakan kesempatan yang sangat ditunggu-tunggu. Oleh karena itulah, maka para penulis pemula tidak pernah berhenti berkreasi dalam hidupnya.
Mereka membutuhkan kesempatan untuk menunjukkan eksistensi diri dalam bidang tulisan. Walaupun pada kenyataannya mereka seringkali mengalami hambatan dalam mewujudkan impian tersebut. Hal ini karena kesempatan yang begitu sulit didapatkan. Seringkali mereka harus kecewa saat menyadari bahwa karya tulisan mereka sama sekali tidak digubris para redaktur.
Berilah kesempatan kepada para penulis pemula, maka mereka akan berkiprah secara maksimal dalam bidang tersebut. Ada banyak penulis yang mampu melejitkan karya setelah mereka tersia-sia karena tidak digubris oleh penerbit yang ada.
Bicara tentang penulis pemula memang membutuhkan hati dan jiwa yang lapang. Anda harus memberikan mereka kesempatan, maka mereka pasti berkembang pesat. Lantas, mengapa kesempatan itu begitu sulit untuk didapatkan?

Kamis, 28 Oktober 2010

Puisi Terakhir

ketika ku rasa lelah tanganku menulis dan fasih sudah ku bicara
maka ku gantung penaku di depan komputerku
lalu berhenti merangkai kata

sudah terlalu banyak
aku takut nanti kau bosan

malam ini langit tak lagi ku gores
tapi ku undang bintang berbincang bersamaku
meski tak merdu menggema aku tetap belajar memakna harihari

puisi terakhir,
romantisme sebuah masa
di mana aku lebih memilih diam dan memahami kesunyian
dengar aku bicara dan jangan lagi membaca tulisanku
karena kata kata ternyata tak mengarti terlalu banyak

airmata ini sudah tak ada lagi,..apa karena terlalu perih hati ini, aku tak tahu.
kau blg akan bersamaku,..tp hatimu berkata lain.
Ak sadar...sadar dan sesadar-sadarnya...
dgn besar hati ak relakanmu kembali padanya

Terima kasih cinta,...kau telah membuatku lebih dewasa..

Rabu, 25 Agustus 2010

Ketika Sunda Hanya Dijadikan Wacana

Salah satu hikmah dari jatuhnya rezim Suharto, adalah semakin menggeliatnya sebagian “orang” Sunda untuk turut aktif di dalam kegiatan-kegiatan “kasundaan”. Orang-orang yang pada zaman Suharto, tidak pernah terdengar percaturannya dalam “kasundaan”, sekarang ini banyak yang muncul di permukaan. Kegiatan seminar, diskusi bertema “kasundaan” marak dilaksanakan dengan berbagai tema, seperti budaya, eknomi, sejarah, politik dsb. Memang ada olok-olok bagi mereka-mereka yang tadinya tidak pernah nongol di kegiatan “kasundaan”, tapi sekarang ini tiba-tiba ikut sibuk, dengan menyebutnya sebagai mualaf Sunda. Lebihnya dari itu, ada pula yang mempertanyakan motivasinya. Namun demikian, olok-olok atau suara miring semacam itu sebaiknya tidak perlu didengar, karena hal itu bisa dipandang sebagai penyakit lama atau budaya negatif orang Sunda — yang jelas-jelas kontra produktif dan bahkan dapat menyebabkan ki Sunda lebih terpuruk. Selama orang Sunda tidak pernah mau berfikir positif terhadap sesama orang Sunda, maka jangan harap ki Sunda dapat “nanjeur makalangan”. Semakin banyaknya orang yang “mikiran kasundaan”, seharusnya ditanggapi sebagai sesuatu yang menggembirakan.
Apabila perhatian orang-orang untuk menyemarakkan “kasundaan” tidak perlu dipersoalankan lagi, maka hal yang justru perlu pandangan kritis adalah “substansi” dari kesemarakan tersebut. Dari berbagai pertemuan, diskusi, seminar atau “wangkongan” yang pernah dilakukan, kesan yang muncul baru terbatas kepada “euforia”, atau kalaupun masuk ke dalam hal yang substantif, wacana yang berkembang tetap berkisar kepada nostalgia, keluh kesah, harapan dan rekomendasi. Bagi suatu masyarakat yang sudah “terbelenggu” lama, kondisi semacam ini pada tahapan awal bisa dianggap wajar, namun dari sisi waktu, akan sampai kapan nostalgia, keluh kesah dan harapan itu akan terus diwacanakan? Dengan meminjam istilah Clifford Geertz, mungkin cukup tepat apabila kondisi ki Sunda dengan segala hiruk pikuknya saat ini disebut sebagai “involusi”. Tenaga, dana dan omongan sudah banyak keluar, namun hasilnya tetap jalan di tempat.
Sebagai contoh, untuk bidang politik hampir di setiap “gempungan” terlontar bahwa dari seluruh anggota DPRD Jawa Barat, hanya 38 % (?) saja orang Sunda “pituin”. Hal yang sama terjadi di dalam bidang perpolitikan nasional. Sebagai masyarakat dengan jumlah nomor dua terbesar, posisi politik orang Sunda di tingkat nasional hanyalah nomor 7 atau nomor 8 (?). Tidak ada satu Parpol pun yang dipimpin oleh orang Sunda, bahkan jangankan menjadi ketua umum, yang duduk di jajaran terasnya pun relatif minim. Wacana selanjutnya lebih berkembang lagi. Kalaulah orang Sunda “pituin” itu, mengisi posisi penting, apakah dengan serta merta mereka akan mempunyai tanggung jawab atau rasa “katineung” terhadap kasundaan?. Dengan mengambil contoh eksekutif yang hampir 100 % orang Sunda pituin, apakah “kasundaan” sudah tersentuh sesuai dengan yang diharapkan?.
Data semacam ini sudah cukup lama diketahui atau paling tidak sudah tiga tahun ini diwacanakan. Kalaulah DPRD dan Parpol dianggap strategis untuk berkontribusi terhadap “kasundaan”, langkah-langkah kongkrit apakah yang sudah dilakukan untuk “merebut” posisi-posisi tersebut ?.
Fenomena terpuruknya orang Sunda di dalam percaturan politik ini seharusnya diteliti secara lebih mendalam. Apakah karena enggan bermain politik ? kalah kualitas atau karena faktor lain ? Kalau karena enggan bermain politik atau kalah kualitas, maka orang Sunda tidak boleh menyalahkan orang lain. Langkah yang harus dilakukan adalah meningkatkan kesadaran orang Sunda bahwa memegang peran di dunia perpolitikan itu sangat penting bagi kelanjutan “kasundaan” dan setelah itu, orang Sunda nya sendiri harus mengkaderkan putra-putri terbaiknya (dengan pengetahuan dan semangat “kasundaan”) agar bisa mengisi peran-peran strategis tersebut. Secara ideologis, dewasa ini tidak ada satu parpol pun yang punya kaitan langsung dengan “kasundaan”. Dalam tataran ini, bukan mustahil bahwa Sunda hanya dilihat sebagai sekumpulan orang-orang calon pemilih.
Apabila “lajuning laku” ini tidak cepat dilakukan, maka orang Sunda akan lebih jauh tertinggal. Pemilu yang akan datang tinggal tiga tahun lagi. Sebenarnya kurang cukup waktu untuk mempersiapkan kader dalam jangka waktu tiga tahun tersebut. Akan tetapi dibanding tidak melakukan apa-apa sama sekali, seharusnya langkah kongkrit harus segera dibuat dan dilaksanakan (kecuali apabila pada tahun 2005 nanti kita akan siap-siap mengeluh bahwa anggota DPRD Jabar yang orang Sunda pituin lebih sedikit lagi dari yang ada sekarang!).
Salah satu faktor yang mungkin jadi “kegejed” orang Sunda di dalam membuat lajuning laku ini adalah adanya kegamangan untuk mendefinisikan ruang lingkup “kasundaan” itu sendiri. Di dalam bidang bahasa misalnya, terkadang terjadi kelucuan. Gembar-gembor tentang nyaris punahnya bahasa Sunda didiskusikan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Apa yang dikemukakan seorang pelajar SLTA kepada kang Ayip Rosidi ketika KIBS patut dijadikan renungan. Menurut sang anak SLTA tersebut, kang Ayip sendiri sesungguhnya sedang merusak bahasa Sunda; karena “madungdengkeun” bahasa Sunda dengan makalah dan bahasa pengantar bukan bahasa Sunda. Hal yang sama terlihat ketika ada seminar Sosialisasi Perda No.6 /1996 yang diselenggarakan oleh LBSS di Aula Unpad tahun 2000 yang lalu. Hampir semua pembicara dan makalah menggunakan bahasa Indonesia; padahal yang dibicarakan adalah keberlanjutan bahasa Sunda. Membicarakan bahasa Sunda dengan tidak menggunakan bahasa Sunda lagi, berarti hanya menempatkan bahasa Sunda sebagai ilmu untuk dijadikan bahan diskusi, penelitian dsb. Orang Sunda sebenarnya punya “babasan” yang berbunyi “pindah cai - pindah tampian”. Artinya, kalau di dalam “riungan” itu yang hadirnya kebanyakan orang Sunda dan yang dibicarakannya tentang “kasundaan”, maka sebaiknya (seharusnya?) bahasa pengantarnyapun bahasa Sunda. Akan tetapi, apabila “kasundaan” itu dibicarakan di dalam konteks ilmu, maka pengantarnya bisa saja menggunakan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa asing (Kalaulah tulisan ini tidak menggunakan bahasa Sunda, karena media yang tersedia untuk menyampaikan gagasan yang dapat dibaca banyak halayak, menggunakan bahasa Indonesia).
Alhamdulillah di dalam Kongres Basa Sunda yang dilaksanakan di Garut baru-baru ini, penggunaan basa pengantar dan makalah sudah lebih menekankan kepada bahasa Sunda. Hal lain yang bisa diamati, adalah banyaknya tokoh-tokoh yang selama ini secara retoris selalu “berjuang” untuk menghidup-kembangkan bahasa Sunda, namun di dalam keluarganya tidak lagi menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar. Hal yang sama mungkin terjadi di kalangan anggota DPRD yang notabene menghasilkan Perda Nomor 6 /1996.
Contoh yang lain dapat terlihat pada kesenian Sunda. Di kota Bandung misalnya, ada gejala bahwa kedudukan kesenian sunda (oleh sebagian pelakunya) sudah tidak ada bedanya dengan kesenian lain. Apakah aneh atau mungkin tidak aneh, apabila seorang “panembang” yang orang sunda “pituin”, bahasa pengantar sehari-hari di keluarganya justru menggunakan bahasa Indonesia?. Bagi mereka, belajar atau melantunkan tembang sunda, mungkin sudah dianggap tidak ada bedanya dengan belajar atau melantunkan lagu-lagu barat.
Apa yang dicontohkan tentang bahasa dan kesenian Sunda ini bisa menjadi gambaran tentang “kegamangan” di dalam mendefinisikan “kasundaan” tadi. Ada kesan apabila sudah membicarakan hal-hal yang “berbau” Sunda maka dianggap sudah berjuang untuk Sunda.
Prof. Dr. Edi S. Ekadjati mendefinisikan orang Sunda ini dengan tiga kriteria. Pertama, orang yang mengaku dirinya orang Sunda dan diakui oleh orang lain sebagai orang Sunda; kedua, orang yang dilahirkan dari ayah dan ibu yang kedua-duanya atau salah satu diantaranya orang Sunda; dan ke tiga, adalah orang atau sekelompok orang yang dibesarkan dalam lingkungan sosial budaya Sunda dan dalam hidupnya menghayati serta mempergunakan norma-norma dan nilai-nilai budaya Sunda. Definisi ini sebenarnya cukup jelas, namun untuk mengoperasionalisasikannya masih ada yang terasa abstrak, terutama untuk norma-norma dan nilai budaya Sunda. Dengan mengacu kepada definisi Prof. Dr. Edi S Ekadjati ini, diketahui bahwa inti persoalan dari “kasundaan” ini, sebenarnya tidak terletak pada kriteria pengakuan atau faktor genetis; namun pada budaya (kriteria ke tiga). Dalam pengertian, walaupun seseorang mengaku sebagai orang Sunda dan secara genetis Sunda, namun di dalam “prilaku” budayanya tidak mengacu dan mempergunakan budaya Sunda. Ada dua hal yang perlu dicermati untuk melihat phenomena ini. Pertama, kesulitan untuk mendefiniskan norma-norma dan nilai budaya Sunda dan ke dua adalah persepsi dari orang Sunda nya sendiri terhadap budaya Sunda tersebut. Dari sisi budaya, sudah saatnya orang Sunda membuat batasan yang jelas dalam bentuk budaya minimal apa yang harus dimiliki oleh orang Sunda sehingga bisa disebut orang Sunda.
Kesepakatan membuat batasan budaya Sunda minimal ini penting, agar “lajuning laku” difahami secara bersama-sama, jelas koridornya dan jelas tujuan yang hendak dicapainya. Contoh adanya perbedaan pandangan tentang batasan budaya Sunda ini dapat terlihat dari tulisan bung Hawe Setiawan (2001) yang dengan segala argumentasinya menyatakan bahwa dewasa ini (pen) ada hantu yang bergentayangan di tatar Sunda, yaitu hantu purisme kesundaan. Selanjutnya Hawe Setiawan mengemukakan pula ” Purisme kesundaan, hantu yang terus bergentayangan itu, agaknya merupakan semacam tanda bahaya terenggutnya kemampuan adaptif seperti itu dari diri kita, para pecinta budaya Sunda. Halaulah ia, sebelum kita binasa karena kegelapan yang dibawanya”. Pandangan lain mengemuka dari Kang Soedradjat Tisnamihardja, yang konon mencontoh Malaysia (?). Menurut kang Adjat, bagi orang Malaysia, ciri kemelayuan itu cukup dengan memakai baju koko dan kopiah; sedangkan bahasa, pola fikir dan berprilaku, menjadi seperti orang Barat sekalipun tidak apa-apa.
Akan halnya pandangan masyarakat terhadap nilai-nilai budaya Sunda ini, tentu lebih variatif dan acak. Bagi mereka yang sudah tidak mau lagi menggunakan nilai-nilai “kasundaan”, atau minimalnya sudah tidak lagi menggunakan bahasa Sunda di keluarga, tentu memiliki argumentasinya sendiri-sendiri. Mereka mungkin berpendapat bahwa tidak berbudaya Sunda pun tidak apa-apa, karena “kasundaan” dianggap tidak memberikan keuntungan atau nilai tambah apapun.
Hal lain yang perlu diingat, bahwa “kasundaan” itu, bukan hanya terbatas kepada budaya, tetapi juga teritorial dan manusia-manusianya. Di dalam konteks ini, rusaknya lingkungan hidup di tatar Sunda atau semrawutnya suatu kota/wilayah bisa dipandang sebagai tidak adanya rasa tanggung jawab “kasundaan” di dalam diri para pengelolanya. Secara idealis, apabila para penentu kebijakan mempunyai rasa tanggung jawab “kasundaan”, maka sebelum memutuskan kebijakannya, akan senantiasa mempertimbangkan, apakah akan merugikan budaya, lingkungan fisik dan orang Sunda atau tidak?
Dengan melihat bahwa orang-orang yang suka “icikibung” di dalam “kasundaan” itu relatif sedikit (mungkin tidak lebih dari 500 orang dari sekitar 30 juta orang Sunda), maka tugas pertama yang harus dilakukan adalah mengapresiasikan “kasundaan” ini kepada seluruh halayak orang Sunda, sehingga akan semakin banyak lagi orang Sunda yang “engeuh” terhadap persoalan-persoalan “kasundaan”. Kegiatan-kegiatan seminar yang hanya akan menghasilkan rekomendasi (yang isinya hampir itu-itu juga) sudah tidak perlu dilakukan lagi. Kalaupun tersedia dana, maka dana tersebut bisa digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih kongkrit seperti kursus-kursus kebudayaan Sunda, menambah frekuensi siaran kesenian Sunda di TVRI dan RRI membuat penerbitan berbahasa Sunda secara cuma-cuma dsb.
Khusus untuk kursus budaya Sunda, kegiatan ini dipandang sebagai sarana strategis yang mendesak untuk segera dilaksanakan. Kursus ini secara umum mencakup budaya Sunda, basa Sunda, sejarah Sunda, makna “kasundaan” bagi kehidupan sehari-hari, persoalan-persoalan ki Sunda (budaya, lingkungan fisik dan manusianya) dsb. Sasaran peserta kursus terutama para anggota partai politik, pejabat pemerintahan, guru, organisasi kepemudaan, wartawan, lingkung seni sunda di perguruan tinggi, para mubaligh dan masyarakat umum. Dari kursus semacam ini, diharapkan jumlah orang yang “engeuh” dan mempunyai tanggung jawab terhadap “kasundaan”, akan semakin banyak dan menyebar di semua lapisan masyarakat. Kita tidak bisa berharap sesuatu kepada orang lain, tanpa pernah memberikan “perlakuan” (baca: apresiasi) terhadap orang lain tersebut. Dalam situasi otonomi daerah, dimana sebagaian besar kewenangan berada di kabupaten/kota, maka kursus-kursus dan apresiasi kebudayaan Sunda ini perlu pula dilaksanakan di daerah-daerah.
Untuk acara di TVRI/RRI selain menambah frekuensi acara-acara kesenian dan kebudayaan, perlu kiranya dibuat program keteladanan dari para pejabat, ilmuwan, tokoh masyarakat, celebritis, dsb., dalam berbahasa dan berbudaya Sunda.
Mungkin ada pertanyaan, darimana sumber dana untuk membiayai kegiatan-kegiatan tersebut ?. Kalaulah selama ini dana untuk seminar-seminar, loka karya dsb., bisa diadakan, maka dana untuk kegiatan-kegiatan yang lebih kongkrit ini, sudah barang tentu bisa pula diupayakan.
Apabila disensus, akan banyak lagi kegiatan-kegiatan praktis tanpa biaya yang bisa dilakukan untuk ki Sunda, misalnya dengan memulai berbicara bahasa Sunda di lingkungan keluarga, kantor dsb. Dibandingkan dengan membuat rekomendasi (bagi orang lain) atau berwacana terus menerus, membuat langkah-langkah kecil tetapi kongkrit, maknanya akan jauh lebih besar bagi ki Sunda.

Arsitektur Imah Sunda

BUBUKA
Upama urang miang ka Bali, Toraja, Minangkabau, Batak atawa Irian, kalawan gampang urang bisa ningal imah atawa wangunan anu has daerahna. Malah hal ieu jadi ciri mandiri (trade mark) pikeun daerahna masing-masing. Bangsa asing nu datang ka Indonesia, kacida katajina ku rupa-rupana arsitektur imah nu aya di Indonesia.
Naha ari Tatar Sunda mibanda arsitektur imah?
Tangtu aya jeung miboga wangun imah anu ngabogaan ciri khas Tatar Sunda, saupamana wae ti mimiti imah anu pangsaderhanana tepi ka anu cukup rumit nyieunna. Conto wangunan moderen anu dasar arsitekturna ngagunakeun arsitektur Sunda pangpangna wangun suhunanana, di antarana suhunan Kampus ITB jeun sabagian suhunan Gedong Sate. Wangunan Pendopo Kabupaten Bandung jeung sababaraha Wangunan Pendopo anu aya di Tatar Sunda mah ilaharna ngagunakeun suhunan anu ngajadi ciri Wangunan Arsitektur Imah Sunda.
SAWATARA TEMPAT ANU MASIH KENEH AYA IMAH ARSITEKTUR SUNDA
Upama dipapay leuwih jauh conto arsitektur nu asli Sunda tur dina wangunan nu masih keneh saderhana, nya eta wangunan imah di:

- Baduy (Banten Kidul)

- Kampung Naga (Tasikmalaya)

- Kampung Pulo (Garut)

- Kampung Genereh (Sumedang)

- Kampung Palasah (Majalengka)

- Kampung Gabus (Cirebon)
Di Baduy, Kampung Naga jeung Kampung Pulo, beunang disebutkeun wangunan imah-imahna masih keneh asli tradisional. Tapi di Kampung Genereh, Palasah jeung Gabus mah, ngan kari hiji-dua bae, kitu oge kaayanana geus loba anu ruksakna.
CIRI-CIRI JEUNG FUNGSI ARSITEKTUR IMAH SUNDA TRADISIONAL
Nurutkeun panalungtikan tim ahli anu dijejeran ku Prof. Dr. Kusnaka Adimiharja, Spk, gawe bareng jeung Kanwil Pariwisata Propinsi Jawa Barat, ciri-ciri jeung fungsi imah Sunda teh bisa disawang tina:

- Aspek Sosial Budaya jeung Arsitektur

- Ciri Wangunan anu Has
Kateranganana upama dipedar leuwih jelas mah kieu:
Aspek Sosial Budaya jeung Arsitektur

Keur urang Sunda, imah teh lain ngan ukur pikeun tempat cicing, atawa tempat istirahat wungkul, tapi oge boga harti anu leuwih lega, nyakup sosial, ekonomis jeung jadi puseur atikan budaya kaasup pendidikan moral, sarta dianggap suci (sakral). Nya di jero imah pisan tumuwuhna hubungan sosial (sosialisasi) anggota kulawarga. Di imah pisan tempat migawe hal-hal nu sipatna ekonomis (home industri). Di imah pisan hal-hal nu tumali jeung atikan kabudayaan ku indung-bapa diajarkeunana ka anak-anakna. Kitu deui imah teh dianggap suci (sakral), disaruakeun jeung alam mikro (bumi sok disebut imah), nu dianggap miniaturna tina makro (dunya = anu oge disebut bumi). Jadi bumi (imah) teh dianggap sarua jeung bumi (dunya).
Eta sababna upama hiji imah dipake hal-hal nu teu hade atawa dipake hal-hal anu kotor, bakal dianggap ngaruksak kasakralan imah, imahna jadi “sial”. Ceuk urang Sunda mah imah teh mangrupa tempat anu suci nu kudu dijaga kasucianana.
Ciri Wangunan anu Has

Ciri has imah Sunda nyaeta panggung (aya kolongna). Bedana jeung imah panggung seler bangsa sejen (Batak, Dayak, Minangkabau), nyaeta luhurna kolong imah Sunda mah henteu pati luhur (40-60cm), siga kolong imah urang Jepang. Upama aya imah di Tatar Sunda anu lain panggung, tapi ngupuk saperti di daerah Tatar Kaler eta mah pangaruh Budaya Jawa. Hateupna (suhunan) imah di Tatar Sunda rupa-rupa aya Julang Ngapak, Jogo Anjing, Heuay Badak, Jure Limasan jeung Leang-Leang. Di antara nu disebutan bieu anu has Sunda mah nyaeta nu disebut suhunan Julang Ngapak (Sulah Nyanda, Julang Wirangga), ari nu sejenna mah kapangaruhan ku kabudayaan batur (suhunan Leang-Leang kapangaruhan ku Arsitektur Cina, Limasan pangaruh Jawa).
Ciri sejenna nya eta ayana capit hurang (cagak gunting), nyaeta babagian tungtung hateup (suhunan) anu dirupakeun cagak atawa bisa oge saperti tanduk munding, malah aya anu dibuleudkeun (lingkaran), biasana tina kai, atawa awi anu dibulen ku injuk. Gunana cagak gunting diantarana pikeun nyegah cai hujan bocor ka jero imah, jadi saperti fungsina talang. Jaba ti eta cagak gunting teh dianggap oge ngandung tanaga gaib pikeun nyegah pangaruh negatip.
Ari wangun (bentuk) imah, biasana pasagi panjang. Latena make palupuh awi, bilikna tina awi dianyam atawa ku sasag. Rangkay imah dijieunna tina kai. Make tatapakan tina batu. Rohangan imah dibagi nurutkeun babagian anu husus. Nyaeta bagian hareup tepas (emper) pikeun ngumpulna semah lalaki. Enggon (kamar sare) jeung bagean dapur (hawu jeung padaringan gudang tempat neundeun beas = pabeasan), bagean tukang ieu mah pikeun awewe. Pangpangna padaringan (goah, pabeasan) kacida dilarangna lalaki asup ka daerah eta.
PANUTUP
Konsep Arsitektur imah Sunda nu mibanda konsep dasar nu filosofis, kacida hadena upama bisa ditransformasikeun kana arsitektur imah nu moderen, nu luyu jeung kapribadian bangsa. Tangtu bae kudu diluyukeun jeung kamajuan teknologi bari henteu lesot tina pandangan hirup jeung filsafah kabudayaan Sunda. Saenyana henteu ngan dina arsitektur bae ayana falsafah Sunda teh tapi oge dina aspek-aspek budaya sejenna, upamana bae dina seni Cianjuran, Tari, Penca, Tata Boga (kadaharan), Tata Busana, jeung dina rupa rupa seni budaya sejenna. Urang sarerea, pangpangna para nonoman kudu leukeun neangan pribadi falsafah karuhun urang, sangkan bisa katransformasikeun dina kahirupan moderen. Muga bae pareng kawujudkeun.
(LISDA - sumber diambil dari berbagai literature)

Selasa, 24 Agustus 2010

Tujuh Welas Pupuh

Kanggo nyusun rumpaka pupuh, kedah ditarekahan supados luyu sareng jiwa pupuh nu tujuh welas nya eta:

  1. Asmarandana, ngagambarkeun rasa kabirahian, deudeuh asih, nyaah.
  2. Balakbak, ngagambarkeun heureuy atawa banyol.
  3. Dangdanggula, ngagambarkeun katengtreman, kawaasan, kaagungan, jeung kagumnbiraan.
  4. Durma, ngagambarkeun rasa ambek, gede hate, atawa sumanget.
  5. Gambuh, ngagambarkeun kasedih, kasusah, atawa kanyeri.
  6. Gurisa, ngagambarkeun jelema nu ngalamun atawa malaweung.
  7. Juru Demung, ngagambarkeun nu bingung, susah ku pilakueun.
  8. Kinanti, ngagambarkeun nu keur kesel nungguan, deudeupeun, atawa kanyaah.
  9. Ladrang, ngagambarkeun nu resep banyol bari nyindiran.
  10. Lambang, ngagambarkeun nu resep banyol tapi banyol nu aya pikiraneunana.
  11. Magatru, ngagambarkeun nu sedih, handeueul ku kalakuan sorangan, mapatahan.
  12. Maskumambang, ngagambarkeun kanalangsaan, sedih bari genes hate.
  13. Mijil, ngagambarkeun kasedih tapi bari gede harepan.
  14. Pangkur, ngagambarkeun rasa ambek nu kapegung, nyanghareupan tugas nu beurat.
  15. Pucung, ngagambarkeun rasa ambek ka diri sorangan, atawa keuheul kulantaran teu panuju hate.
  16. Wirangrong, ngagambarkeun nu kawiwirangan, era ku polah sorangan.
  17. Sinom, ngagambarkeun kagumbiraan, kadeudeuh.

  1. PUPUH ASMARANDANA

    (Ngagambarkeun rasa deudeuh, asih, nyaah, birahi) PIWURUK SEPUH

    Ngariung di tengah bumi,

    pun biang sareng pun bapa,

    jisim abdi diuk mando,

    husu ngupingkeun pituah,

    piwejang ti anjeunna,

    pituduh laku rahayu,

    piwejang sangkan waluya.
  2. PUPUH BALAKBAK

    (Ngagambarkeun heureuy atawa banyol) DAYEUH BANDUNG

    Dayeuh Bandung kiwari teuing ku rame-araheng,

    gedong-gedong pajangkung-jangkung wangunna-alagreng,

    tutumpakan-tutumpakan balawiri lalar liwat-garandeng.
  3. PUPUH DANGDANGGULA

    (Ngagambarkeun katengtreman, kawaasan, kaagungan, kagumbiraan) MILANG KALA

    Dinten ieu estu bingah ati,

    ku jalaran panceg milang kala,

    kenging kurnia ti Alloh,

    rehing nambahan taun,

    tepung taun umur sim abdi,

    henteu weleh neneda,

    ka Gusti Nu Agung,

    malar umur teh mangpaat,

    tebih bahla turta pinarinan rijki,

    sumujud ka Pangeran.
  4. PUPUH DURMA

    (Ngagambarkeun rasa ambek, gede hate, sumanget) LEMAH CAI

    Nagri urang katelah Indonesia,

    diriksa tur dijaring,

    sumirat komarana,

    berkahna Pancasila,

    ageman eusining nagri,

    yu sauyunan,

    ngawangun lemah cai.
  5. PUPUH GAMBUH

    (Ngagambarkeun kasedih, kasusah, kanyeri) KADUHUNG

    Kaduhung sagede gunung,

    kuring sakola teu jucung,

    lalawora resep ulin,

    hanjakal tara ti heula,

    ayeuna kari peurihna.
  6. PUPUH GURISA

    (Ngagambarkeun nu ngalamun atawa malaweung) SI KABAYAN

    Si Kabayan lalamunan,

    pangrasa bisa nyetiran,

    motor atawana sedan,

    poho keur eundeuk-eundeukan,

    na dahan emplad-empladan,

    gujubar kana susukan.
  7. PUPUH JURU DEMUNG

    (Ngagambarkeun nu bingung ku kalakuan sorangan) ADIGUNG

    Lolobana mungguh jalma,

    embung hina hayang agung,

    hayang hirup mukti,

    tapina embung tarekah,

    tinangtu mo bakal nanjung.
  8. PUPUH KINANTI

    (Ngagambarkeun nu nungguan, deudeupeun atawa kanyaah) KANYAAH INDUNG

    Kanyaah indung mo suwung,

    lir jaladri tanpa tepi,

    lir gunung tanpa tutugan,

    asihna teuing ku wening,

    putra teh didama-dama,

    dianggo pupunden ati.
  9. PUPUH LAMBANG

    (Ngagambarkeun anu lohong banyol, tapi pikiraneun) WAWANGSALAN

    Dialajar wawangsalan,

    saperti tatarucingan,

    cik naon atuh maksudna,

    teangan naon wangsalna,

    gedong ngambang di sagara,

    ulah kapalang diajar,

    keuyeup gede di lautan,

    kapitineung salawasna.
  10. PUPUH LADRANG

    (Ngagambarkeun anu banyol tapi bari nyindiran) MOKAHAAN

    Aya hiji anak bangkong leutik,

    mokahaan,

    maksudna ngelehkeun sapi,

    nahan napas antukna bitu beuteungna.
  11. PUPUH MAGATRU

    (Ngagambarkeun nu sedih, bingung, handeueul atawa mapatahan) KASAR - LEMES

    Dupi irung lemesna teh nya pangambung,

    pipi mah disebat damis,

    upami buuk mah rambut,

    ceuli sok disebat cepil,

    kasarna angkeut mah gado.
  12. PUPUH MASKUMAMBANG

    (Ngagambarkeun kanalangsaan, sedih bari ngenes hate) BUDAK JAIL

    Anak manuk dikatepel budak jail,

    jangjangna getihan,

    rek hiber teu bisa usik,

    duh manusa kaniaya.
  13. PUPUH MIJIL

    (Ngagambartkeun kasedih tapi gede harepan) NUNGTUT ELMU

    Najan cicing nya di tepiswiring,

    kade ulah bodo,

    kudu tetep nungtut elmu bae,

    sabab jalma nu loba pangarti,

    hirup tangtu hurip,

    mulus tur rahayu.
  14. PUPUH PANGKUR

    (Ngagambarkeun nu gede ambek atawa nyanghareupan tugas beurat) KA SAKOLA

    Seja miang ka sakola,

    rek diajar nambahan elmu pangarti,

    pigeusaneun bekel hirup,

    sabab mungguhing manusa,

    kudu pinter beunghar ku elmu panemu,

    komo jaman pangwangunan,

    urang kudu singkil bakti.
  15. PUPUH PUCUNG

    (Ngagambarkeun nu ambek ka diri sorangan atawa keuheul kulantaran teu panuju hate) TATAKRAMA

    Mangka inget tatakrama sopan santun,

    tanda jalma iman,

    nyarita jeung amis budi,

    da basa mah lain barang anu mahal.
  16. PUPUH WIRANGRONG

    (Ngagambarkeun anu kawiwirangan, era ku polah sorangan) SIEUN DORAKA

    Kuring moal deui-deui,

    gaduh panata nu awon,

    ngabantah nu jadi indung,

    sieun dibendon ku Gusti,

    kawas Dalem Boncel tea,

    doraka ti ibu-rama.
  17. PUPUH SINOM

    (Ngagambarkeun kagumbiraan, kadeudeuh) TATAR SUNDA

    Tatar Sunda estu endah,

    lemah cai awit jadi,

    sarakan asal gumelar,

    amanat Ilahi Robbi,

    titipan nini aki,

    wajib dijaga dijungjung,

    basa katut budayana,

    padumukna luhung budi,

    insya-Allah tatar Sunda karta harja.
Gapuraning Gusti, 1992.
Rumpaka Pupuh Asmarandana, Dangdanggula, Kinanti, Sinom Tina Buku Wulang Krama karya Drs. R.H. Hidayat Suryalaga.

Silsilah Ngaran Patempatan Di Tatar Sunda

Oléh-oléh Priangan dilingkung gunung

Majalaya, Soréang, Banjaran Bandung…

Sempalan lagu “Borondong Garing” di luhur téh ngandung déskripsi sawatara ngaran tempat nu aya di Tatar Sunda. Demi nataan ngaran-ngaran tempat téh ilaharna sok disebut toponimi. Nurutkeun kajian folklore, toponimi téh bagian tina élmu onomastika (onomastics), anu ulikanana ngawengku di antarana baé: méré ngaran jalan, ngaran atawa jujuluk jalma, ngaran kadaharan, ngaran bubuahan kaasup asal-usul (legénda) ngaran hiji tempat dumasar kana ’sajarah’ ngajanggélékna.
Nataan ngaran tempat tangtu bakal loba rambat kamaléna lantaran ngajujut ngaran tempat mah teu cumpon ku nyawang ngan tina hiji aspék baé. Nya sawadina kudu dijujut deuih rupa-rupa informasi nu nyampak disatukangeun kaayaan éta tempat. Kumaha pakuat-pakaitna antara ngaran tempat jeung éta informasi? Ilustrasi di handap saeutikna baris méré gambaran anu écés.
Upamana, mun ti Subang rék ka Bandungkeun urang tangtu bakal ngaliwatan Tanjakan Émén. Éta tempat téh pernahna di kebon entéh, méméh gerbang Tangkuban Parahu. Mun dititenan éta ngaran tempat téh ngandung sababaraha informasi. Kahiji, pangna disebutkeun Tanjakan Émén nurutkeun setting fisikal (morfogéologis atawa kontur permukaan bumi) lantaran éta jalan téh nanjak (nanjeur). Kadua, di éta tanjakan téh nurutkeun setting sosial, cék sakaol mah (kira-kira taun 70-an) kungsi aya kajadian nu matak geunjleung. Di éta tempat, kungsi aya supir ompréngan Bandung-Subang cilaka, ngan duka alatan tabrakan duka tigebrus, nepi ka maotna. Ngaranna Émén. Ari cék mitos (setting kultural), lamun nu rék ngaliwat ka éta tempat kudu ngalungkeun roko ngarah salamet.
Kasus-kasus modél kitu téh bisa baé kapanggih di unggal tempat. Tina rupa-rupa informasi nu diébréhkeun dina ilustrasi téh tétéla ngaran tempat téh ngurung kana aspék-aspék fisikal, sosial jeung kultural ngeunaan éta tempat.
Mun dijujut, di urang (Tatar Sunda) teu saeutik ngaran tempat nu diasosiasikeun jeung rupa-rupa talajak alam (setting fisikal) nu pernah aya. Aya sababaraha pola nu maneuh raket jeung asosiasi, biasana ku cara matalikeun ngaran tempat jeung talajak alam téa. Éta pola téh bisa dicirian ku: kahiji, pola linier nyaéta ngaran tempat sacara langsung diadaptasi tina talajak alam. Demi talajak alam téh bisa ngawengku aspék hidrologis, aspék morfogéologis (kontur permukaan taneuh) jeung aspék biologis. Ari nu dimaksud pola nu kadua nyaéta ngaran tempat nu dicokot tina dua atawa leuwih boh talajak alam boh aspék sosiokultural dibarungkeun jadi hiji ngaran (konsép).
Ngaran patempatan nu ngindung kana aspék hidrologis di urang mah teu wudu beungharna. Mun cek istilah Karl A. Witfogel (urang Jerman) mah urang Sunda téh kakolomkeun kana hydrolic society, masarakat nu teu leupas tina cai. Ari kituna mah geus pada-pada maphum yén tanah Sunda téh cenah kawentar daérah nu subur ma’mur. Ari salasahiji ciri suburna taneuh téh nyaéta ku cur-corna cai. Ceuk nu resep heureuy téa mah cenah diciptakeunana Tatar Sunda ku Gusti Alloh téh ngadamelna ogé bari “marahmay, tur imut ngagelenyu”.
Geura urang guar, aspek hidrologis nu patali jeung pola linier, ngaran Andir upamana. Éta kecap téh seuhseuhanana mah kalawan torojogan diadaptasi tina talajak alam aspék hidrologis, anu saharti jeung huluwotan (springs), séké atawa cinyusu. Disawang tina jihat sajarah, munasabah Andir (lebah Bandara Husen Sastranegara) téh baheulana teu bina ti sumur. Ku lantaran éta tempat téh subur ku cai, Andir téh harita jadi tempat anu kagiridig. Jadi tempat pangimpungan jalma-jalma nu lumampah jauh boh nu badarat boh nu tumpak kuda pikeun ngaso jeung ngaleungitkeun hanaang. Lila-lila mah éta tempat téh jadi ramé, jadi pangjugjugan ti mana-mana. Nilik kana talajak alam nu aya di tatar Sunda, bawirasa mun di unggal tempat aya lembur nu dingaranan Andir. Di éta tempat bakal manggihan kalawan langsung aspék hidrologis anu disebut cinyusu, séké nu pernahna di suku gunung atawa lamping. Conto pola linier nu pakait jeung aspek hidrologis séjénna upamana ngaran: Empang, Parigi, Dano, Bendungan; Léngkong; Parung; Dermaga, jsté.
Ari pola nu kadua, lantaran gabungan téa tina dua aspek atawa leuwih (aspek hidrologis jeung aspék séjén kaasup rupaning istilah) di antarana: ci(cai): Ci-malaka; séké: Sékéloa; leuwi: Leuwidaun; curug: Curugsigay; bantar: Bantarmara; muara: Muararajeun; balong: Balonggedé; sawah: Sawahkurung; parakan: Parakansaat; situ: Situaksan; émpang: Émpangsari; solokan: Solokanjeruk; kali: Kalipucang; karang: Karangnini; ranca/rawa: Rancapurut, Rawa- badak; sagara: Sagaraanakan; sumur: Sumurbarang; talaga: Talagawarna; tambak: Tambaksari; lebak: Lebaksiuh; parigi: Parigimulya jrrd.
Tah lebah akumulasi tina ngaran-ngaran tempat di Tatar Sunda nu ditataan di luhur, bawirasa mun diproséntasekeun téh tangtu bakal didominasi ku ngaran nu dimimitian ku kecap ci. Naon sababna? Perlu aya panalungtikan nu leuwih jero.
Lian ti aspék hidrologis, ngaran tempat téh sok dipatalikeun ogé jeung aspék morfogéologis (dumasar kana kontur permukaan bumi) deuih. Ari pola linier nu patali jeung aspek morfogeologis di antarana: Punclut/Penclut, Legok, Tegal, Talun; Genténg jsté. Sedengkeun pola nu ngindung ka nu kadua Lemah Neundeut, upamana. Éta ngaran téh diadaptasi tina kaayaan lemah (taneuh) anu neundeut akibat ayana rohang di jero taneuh anu kosong (téktonik) nu ahirna ngareunteutkeun struktur taneuh. Conto-conto séjénna ngaran tempat nu diadaptasi tina aspék morfogéologis nu ngindung kana pola nu kadua, upamana baé: tina kecap tegal jadi ngaran Tegalkalong; kebon: Kebonjukut; cadas: Cadasngampar; pasir: Pasirjati; batu: Baturéok; guha: Guhapawon; legok: Legokhuni; bojong: Bojongméron; ujung: Ujungkulon; geger: Gegerkalong; tanjung: Tanjungsari; pulo: Pulomajeti, jrrd.
Kasus nu spésifik, deskripsi ngaran tempat nu patali jeung aspék morfogéologis bakal leubeut kapanggih di daérah pakidulan Tatar Sunda nu manjang ka tebéh wétan. Éta tempat téh mangrupa kawasan pagunungan anu katelah Southern Mountains, nu nuduhkeun hiji daérah pagunungan (non vulkanik). Tina kontur taneuh modél kitu munasabah mun di éta tempat loba nu dicokot tina talajak alam. Kota Tasikmalaya, apan salah sahiji cirina loba ngaran tempat nu maké ngaran gunung, nepi ka sohor ku jujuluk the ten thousand hill of Tasikmalaya. Kesan pernah ayana talajak alam modél kitu téh bisa diidentifikasi ngaliwatan ngaran tempat nu maké kecap gunung. Upamana bagian wilayah kota nu dibéré ngaran: Gunung sabeulah, Gunung lipung, Gunungroay, Gunung sari, Gunung gadog, Gunung pereng, Gunung awi, Gunung jambé, Gunung putat, Gunung Ki-Cau, Gunung Pongpok jrrd.
Sedengkeun aspek biologis sok dipatalikeun jeung lingkungan alam (sistem ékologis) nu aya di sabudeureunnana. Ngaran tempat biasana dicirian atawa ngarujuk kana aspek flora jeung fauna. Upamana flora, nyaéta tangkal nu aya atawa nu hirup di éta tempat. Geura urang pedar nu patali jeung pola linier dina aspek biologis. Upamana ngaran Kosambi. Mungkin baé éta tempat téh harita mah can boga ngaran. Pikeun kapentingan nuduhkeun éta tempat, kabeneran deuih di dinya téh aya tangkal kosambi nya tuluy ditarelah baé ngaran Kosambi, malah nepi ka ayeuna. Di tatar Sunda bawirasa asa loba pisan ngaran tempat nu maké ngaran tutuwuhan/tangkal tina pola linier. Geura urang tataan ngaran-ngaranna, saperti: Garut, Bayongbong, Sentul, Kosar, Katapang, Dangdeur, Calingcing, Dukuh, Rambutan, Balingbing, Cangkuang, Baros, Loa, Menteng, Bintaro, Bencoy, Jati, Paséh, Kopo, Kirisik, Haramay, Petir, Kawista, Kroya, Gorda(h), Gempol; Gandasoli; Gambir; Gadog, Jamblang, Jambu, Jampang, Darangdan, Bugel, Bihbul. Gombong, jrrd.
Demi pola nu kadua, nya eta Haurkonéng, Haur Pancuh, Haur Pugur, Buahdua, Warudoyong, Kalapanunggal, Kasomalang, Kiaracondong, Gintunglempeng, Jatitujuh, Kawungluwuk, Pakuhaji, Kadungora, Rengasdengklok, jrrd. Kaasup ngaran tempat séjénna, Dungusmaung (dungus atawa rungkun; maung), Leuweungtiis (leuweung; tiis (aspék klimatologis)), Pengkolan Asem, Warung Togé, Leuwilaisah, jrrd.
Kumaha ari ngaran tempat nu dicokot tina aspék sosial? Ngaran Banceuy (lebah alun-alun Bandung beulah kalér) upamana. Banceuy téh sacara étimologis ngabogaan harti kompléks kuda, kaasup istal jeung nu ngurusna. Ieu patempatan téh gelarna sabada aya jalan raya pos (Grote Postweg) nu ngembat ti Anyer ka Panarukan téa. Ieu Banceuy téh sok dipaké tempat pangreureuhan atawa bagantina kuda pikeun kapentingan transportasi jeung kaperluan pos (pasuratan) harita. Mun aya surat atawa barang ti Batawi kudu dianteurkeun ka Semarang, nya tangtu baé moal kuateun mun kudu meleter kuda hiji nepi ka Semarang. Munasabah pisan upama ngaran Banceuy téh aya méh di tempat (kota) nu kaliwatan ku éta jalan.
Conto séjén, Balubur. Apan éta ogé teu leupas tina aspék sosial jaman pangawulaan. Harita balubur téh ngaran tempat aya dina kakawasaan bupati (boga hak istiméwa). Mun cara ayeuna mah meureun sarua jeung kompléks perumahan pejabat (para menak) kabupatén. Conto séjénna nu patali jaman pangawulaan: Patrol, Karéés, Régol, Pamager sari, Pungkur jsté. Atuh ngaran-ngaran nu maké kecap kekebonan luyu jeung tangkal nu dipelakna (lelewek Bandung), upamana: Kebon Kalapa, Kebon Jukut, Kebon Kawung jrrd. éta ogé teu leupas tina aspék sosial harita. Kebon kopi di Ciaruteun (Bogor), apan teu leupas tina sétting sosial malah kaasup setting kultural, nyaéta tempat dkapanggihna prasasti batutulis Kebon Kopi. Éta tempat téh ngait kana jaman ‘tanam paksa’ Culturstelsel nu ngawajibkeun masarakatna marelak kopi. Harita leuweung dibabad pikeun dijadikeun kebon kopi. Nepi ka ayeuna éta tempat téh nelah kampung Kebon kopi. Titinggal cultur stelsel téh, nu abadi nepi ka kiwari sok dikarawihkeun, cenah:
Dengkleung déngdék, buah kopi raranggeuyan

Ingkeun anu déwék ulah pati diheureuyan.

Ari ngababad leuweung pikeun kapentingan pitempateun ilaharna sok disebut ngababakan. Mun rék ngababakan tara leupas sistem kapercayaan masarakatna ngeunaan hadé-goréngna hiji tempat. Tina sistem pangaweruh masyarakatna kana panataan patempatan nya lahir istilah-istilah topografi saperti: galudra ngupuk, pancuran emas, satria lalaku, kancah nangkub jsté. Tah lembur meunang muka anyar téh sok ditarelah wé kampung babakan.
Di Bandung gé apan sakitu ngaleuyana ngaran tempat nu maké kecap babakan, saperti Babakan Surabaya, Babakan Ciamis, Babakan Sumedang, Babakan Ciparay jsté. Éta ngaran-ngaran tempat téh raket pisan patalina jeung talajak sosial waktu ngadegkeun éta tempat. Babakan Surabaya upamana, dalit pisan jeung talajak sosial, ku kajadian dipindahkeunana instalasi militér, pabrik senjata/mesiu nu sok disebut Artillerie Contructie Winkel (ACW) ti Ngawi jeung Surabaya ka lelewek Kiaracondong. Ayeuna mah éta pabrik senjata téh katelah PINDAD. Ti dinya loba pagawé ACW (urang Surabaya jeung Ngawi) nu pindah ngaradon “bedol désa” ka Tatar Sunda. Cék Haryoto Kunto, nya ti harita aya kacapangan dina wangun sisindiran keur ngageuhgeuykeun urang Jawa nu unina “Jawa Kowék dagang Apu, datang poék teu diaku”. Ieu geuhgeuyan téh lantaran loba “bedoler” datangna ka Bandung kapeutingan. Boa boa pedah naék spur “Si Kuik” kawasna mah, anu ngadided majuna jeung loba eureunna téa. Sadatangna ka Bandung, tuluy baé muka lembur, arimah-imah, nya katelah wé babakan Surabaya.
Masih cék Haryoto, aya talajak sosial anu unik sabudeureun kota Bandung harita. Bawirasa ayeuna ogé masih dipaké. Nyaéta sebutan ‘dayeuh’. Dayeuh téh mangrupa istilah anu populér pikeun ngarujuk kota Bandung. Jadi nyaba ka ‘dayeuh’ maksudna indit ka Bandung.
Ari sétting kultural nyaéta ngurung kana ngaran tempat nu dipatalikeun jeung unsur-unsur gagasan atawa ide saperti: aspék mitologi, folklore, sistem kapercayaan masarakatna. jsb. Najan dina émprona mah dalit jeung seting sosial. Saupama ngajujut ngaran tempat, teu kakobet ku cara boh setting fisikal, boh setting sosial nya tarékah pamungkas téh maké setting kultural. Lamun loba ngaran tempat/kota di tatar Sunda nu teu bisa dijujut maké perspéktif fisikal, nya wayahna kudu dibantuan ku mitologi, folklore jeung sistem kapercayaan. Majaléngka pan ngaitna téh jeung mitologi Nyi Rambut Kasih, Bandung nyantélna jeung carita legénda Sangkuriang, Sumedang jeung étimologi Insun Medal jste. Réa kénéh ungkabeun mah saperti Tanjakan Sahrudin? Dago Jawa? Selagedang? Gado Bangkong? Curug Pangantén? Gunung Tampomas? Gunung Galunggung? jrrd. Lebah dieu perlu metakeun jampé pamaké téh. Dina nyukcruk ngaran tempat, informasina téh biasana nyamuni disatukangeun budaya nu jadi bagian integral tina kahirupan masarakatna.
Nyukcruk sarsilah ngaran Plumbon, Karapyak, Palimanan jste. mun kurang-kurangna urang apal kana kasangtukang budaya, tangtu bakal lebeng, bakal poékkeun. Nya cara maluruhna, kahiji ku jalan mesék éta kecap sacara étimologis; nu kadua dipatalikeun jeung aspék sosial budaya jaman harita ngeunaan éta tempat, saperti conto kasus Tanjakan Émén di luhur.
Geura urang pesék, upamana Palimanan. Naon sababna bet dingaranan Palimanan? Singhoréng aya sasakalana. Kecap palimanan téh sacara étimologis asal kecap tina liman (Kawi) nu hartina gajah, dibéré rarangkén barung (konfiks) pa-an nu hartina tempat. Sabada dirarangkenan éta kecap ngandung harti tempat nu dicicingan ku gajah. Ceuk légégna mah komplék gajah.
Naha maké aya gajah di éta tempat? Demi kota Palimanan, aya di daérah bawahan karajaan Cirebon (Sultan Cirebon). Ari Sultan téh nya raja téa. Demi nu jadi raja harita, (patalina jeung kontéks sosiokultural mitis-magis) boga anggapan yén miara gajah (satwa kalangenan) mangrupa salahsahiji kasaktén anu gedé pisan pangaruhna kana kalungguhan jeung komara éta raja. Nurutkeun B. Anderson dina seuhseuhanana tradisi pikiran politik Jawa (Sunda) kacida muhit jeung mentingkeunana kana kamampuh museurkeun kasaktén. Tah lebah miara satwa di lingkungan karaton/karajaan, dianggap bisa népakeun karakter nu sarua ka raja. Mawat gajah (salaku mitos) dipercaya bisa ngalambangkeun kaagungan, kakuatan sarta kasaktén éta raja/sultan.
Tina pedaran di luhur, katitén yén ngaran-ngaran pilemburan husus di Tatar Sunda teu sagawayah. Unggal ngaran tempat téh ngabogaan kasangtukang kasajarahan (sasakala) nu patali jeung setting fisikal, setting sosial jeung setting kultural. Nya kekecapan karuhun urang yén lembur matuh, dayeuh maneuh banjar karang pamidangan téh ninggang dina kekecrék. ***
Tina Cupumanik No.17/2004

Selasa, 10 Agustus 2010

Surat Cinta UntukMu..

Aaahhh..
Mengapa selalu saja hanya bisa sebatas mengagumi..
Memandangi dari jauh tanpa bisa menyentuh..
Menghirup pesona namun tak berasa..

Hari ini aku jatuh (cinta) lagi, Tuhan..
Aku tidak tahu ini yang keberapa kali..
Aku bahkan tak ingat lagi..
Aku tahu aku mudah jatuh, Tuhan..
Terlalu mudah, bahkan..
Tapi setiap kali jatuh..
Aku yakin jatuhku itu nyata..
Karena seluruh tubuhku merespon kehadirannya..
Tuhan..
Kata orang jatuh itu indah..
Tapi mengapa yang kuingat hanya sakit..
Sakitnya jatuh tanpa bisa merengkuh..
Aku ingin seperti orang lain, Tuhan..
Mereka jatuh tapi tak pernah ingin bangkit..
Karena indahnya..
Tuhan..
Aku takut ketika nanti aku jatuh (lagi) dan tak ingin bangkit,
Aku hanya mampu memandangi dari jauh..
Tanpa bisa menyentuh..
Tanpa bisa merengkuh..
Sampai akhirnya hatiku mati dari rasa..

Minggu, 08 Agustus 2010

Muhasabah Diri

Tuhanku,
Aku hanyalah sebutir pasir di gurun-MU yang luas
Aku hanyalah setetes embun di lautanMU yang meluap hingga ke seluruh samudra
Aku hanya sepotong rumput di padangMU yang memenuhi bumi
Aku hanya sebutir kerikil di gunungMU yang menjulang menyapa langit
Aku hanya seonggok bintang kecil yang redup di samudra langit Mu yang tanpa batas
Tuhanku
Hamba yang hina ini menyadari tiada artinya diri ini di hadapanMU
Tiada Engkau sedikitpun memerlukan akan tetapi
hamba terus menggantungkan segunung harapan padaMU
Tuhanku.. baktiku tiada arti, ibadahku hanya sepercik air
Bagaimana mungkin sepercik air itu dapat memadamkan api nerakaMU
Betapa sadar diri begitu hina dihadapanMU
Jangan jadikan hamba hina dihadapan makhlukMU
Diri yang tangannya banyak maksiat ini,
Mulut yang banyak maksiat ini,
Mata yang banyak maksiat ini
Hati yang telah terkotori oleh noda ini memiliki keninginana setinggi langit
Mungkinkah hamba yang hina ini menatap wajahMu yang mulia???
Tuhan Kami semua fakir di hadapanMU tapi juga kikir dalam mengabdi kepadaMU
Semua makhlukMU meminta kepadaMU dan pintaku.
Ampunilah aku dan sudara-saudaraku yang telah memberi arti dalam hidupku
Sukseskanlah mereka mudahkanlah urusannya
Mungkin tanpa kami sadari , kamu pernah melanggar aturanMU
Melanggar aturtan qiyadah kami,bahkan terlena dan tak mau tahu akan amanah
Yang telah Tuhan percayakan kepada kami Ampunilah kami
Pertemukan kami dalam SyurgaMU dalam bingkai kecintaan kepadaMU
Tuhanku, Siangku tak selalu dalam iman yang teguh
Malamku tak senantiasa dibasahi airmata taubat,
Pagiku tak selalu terhias oleh dzikir padaMU
Begitulah si lemah ini dalam upayanya yang sedikit
Janganlah kau cabut nyawaku dalam keadaan lupa padaMu
Atau dalam maksiat kepadaMU
Ya Tuhanku Tutuplah untuk kamu dengan sebaik-baiknya penutupan !!
Amiiin.

Selasa, 20 Juli 2010

Sejarah dan Perkembangan Musik Rap di Indonesia

SIAPA sih yang gak kenal musik rap yang juga sering disebut musik hip-hop? Zaman sekarang kalau ngomongin musik jenis ini kamu mungkin akan langsung terbayang rapper-rapper yang sering kita dengar, misal Puff Daddy atau Diddy, Kanye West, Nelly, 50 Cent, ataupun Eminem. Mereka masing-masing memang memberikan sentuhan khas ke rap mereka, tapi mereka sama sekali bukan pencipta atau pencetus jenis musik ini. Mereka hanyalah cucu atau bahkan cicit dalam sejarah musik rap. Ini karena asal muasal rap muncul sejak tahun 1970-an. [P Diddy waktu itu masih anak-anak dan dikenal dengan nama aslinya, Sean Combs. Apalagi si Eminem, dia masih bayi bernama Marshall Mathers dan jangankan ngomong kasar—ngomong aja belum bisa kali!]

Budaya hip-hop.
Musik rap adalah bagian dari gaya hidup hip-hop. Hip-hop adalah sub-kultur yang mulai muncul di lingkungan anak-anak kulit hitam dan hispanic yang tinggal di daerah Bronx di kota New York, Amerika Serikat. Budaya hip-hop sering ditandai dengan pilihan pakaian, graffiti pada tembok, dan gerakan dance mereka. Musik hip-hop punya ciri yang khas berupa beat yang kuat dan dibumbui dengan lirik-lirik yang mengalir dengan enak karena kata-katanya rhyming—kayak puisi. Satu hal yang menarik, pada jaman itu, istilah “rapper” sendiri belum ada. Yang ada MC dan DJ. [Sedikit beda dengan MC yang disewa kakakmu waktu dia bikin resepsi kawinan tahun lalu], MC ini tugasnya ngomong diantara lagu-lagu yang diputar DJ buat ngenalin judul lagu-lagu itu atau bikin komentar-komentar lain yang bikin suasana tambah enak. Agar yang dengerin gak keganggu dengan ocehan MC, si MC akan bikin ocehannya mengalir dan menyatu dengan musiknya. Ini jadi salah satu cikal bakal rapping yang kita kenal hari ini.

Pengaruh Jamaica.
Pengaruh cukup besar terhadap musik rap zaman sekarang juga berasal dari akulturasi [mudah-mudahan kata ini artinya pencampuran atau perkawinan] budaya Amerika dan Jamaica. Jadi, ceritanya, orang Jamaica seneng banget dengan music R&B yang dikenalkan tentara Amerika di Jamaica dan diputar radio-radio di sana. Sering dibuat semacam tempat dansa dadakan [Mendadak R&B?] dengan cara memasang sound-system yang cukup gede buat didengar orang-orang di sekitaranya. Karena orang Jamaica pada waktu itu gak bisa bikin musik R&B sebagus orang Amerika, biasanya musik R&B yang dimainkan adalah rekaman dari musisi Amerika. Dan agar ada unsur Jamaica-nya, selalu ada MC lokal (orang Jamaica) yang nge-“toast” selama musik berjalan. Toasting itu pokoknya adalah aktivitas ngoceh sambil musik jalan terus. Kadang yang di-oceh-kan itu frasa-frasa atau kata-kata sederhana yang bisa bikin tambah semangat orang-orang yang sedang joget, misal “move it, move it” atau “work it, work it” [dan ini tentu dengan logat Jamaica yang berat dan seksi itu].

MC dan DJ mulai kreatif.
Dengan beberapa pengaruh ini, ditambah “penemuan-penemuan baru” yang muncul dalam teknik musik hip hop, jenis musik ini semakin disukai oleh makin banyak orang. Kreativitas terus berkembang. DJ mulai macem-macem ide, tingkah, dan tekniknya. Dengan turntable ganda, DJ mulai menggunakan teknik-teknik breaking dimana bagian-bagian lagu tertentu akan ditelanjangi sehingga hanya beat dasar yang kedengar atau scratching dimana piringan hitam akan diputar maju dan mundur secara cepat sehingga keluar bunyi yang khas, dan teknik-teknik lain. Meningkatnya kemampuan DJ juga diiringi dengan perkembangan yang pesat dari partner-nya, yaitu sang MC. MC semakin kreatif dalam membuat cerita dan lirik-liriknya menjadi sebuah tontonan tersendiri selain musik yang mengiringinya. Fokus mulai sedikit banyak beralih pada MC itu sendiri. Remaja kulit hitam, hispanic, maupun minoritas lainnya di Amerika mulai giat melatih kemampuan ngoceh dengan cerita yang menarik dan dalam melodi yang enak didengar. Ocehan anak satu akan nyambung dengan anak lainnya dan dan bahkan bisa saling menjawab. Dari sini nanti berkembang pula yang disebut battle, yaitu adu lirik—saling jawab, saling serang. [Imagine berbalas pantun without the pakaian daerah!] Eniwei, setelah semakin banyak orang bikin musik jenis ini, akhirnya sejarah mencatat rekaman musik rap pertama yang meledak secara komersial dan mendapat perhatian serta pengakuan publik secara luas. Kelompok yang membawakannya bernama Sugar Hill Gang dan lagunya berjudul Rapper’s Delight. Bahkan kata “rapper” itupun dipopulerkan oleh lagu ini. Orang mulai menyebut istilah rapper untuk menggantikan kata MC.

How would you like your rap, sir?—Munculnya berbagai jenis rap.
Seperti dalam genre musik lain, genre rap-pun mulai berkembang menjadi beberapa “jenis” musik rap. Memang sepertinya nggak ada textbook yang dengan jelas membagi jenis-jenis musik rap, tapi dari pengamatan sehari-hari kita bisa lihat paling tidak ada beberapa jenis. Yang mungkin paling sering kita dengar beritanya adalah gangsta rap (rap-nya gangster gitu maksudnya). Kalau mau, baca juga boks yang cerita tentang gangsta rap ini—West Coast vs. East Coast]. Selain karena jenis rap ini emang populer, kita kadang lebih sering denger jenis rap ini karena para rappernya juga sering bikin ulah sehingga berita tentang gangsta rap ini menjadi semakin banyak muncul. Kamu mungkin kenal Tupac Shakur, Notorious B.I.G., Snoop Dogg, dan lain sebagainya—mereka masuk kategori gangster ini. Dulu P-Diddy dan Jay-Z kayaknya juga bisa dikatakan jelas masuk ke kategori ini, tapi sekarang gak jelas juga. Lebih banyak ke arah pop-rap kayaknya. Tema-tema mereka sudah bukan tentang hidup gangster di jalanan melulu. Banyak rapper yang topik liriknya berubah dengan perubahan-perubahan yang dia alami dalam kehidupan sehari-hari. Manusiawi. Terus ada juga rap yang warna Jamaica-nya sedikit lebih kental, dulu Wyclef Jean suka main jenis ini, tapi mungkin sekarang bisa juga udah berubah. Terus ada party-rap, dulu Will Smith (waktu itu masih tergabung dalam duo bernama DJ Jazzy Jazz and the Fresh Prince) suka membawakan lagu yang tema-temanya pesta dan acara-acara lain yang suasananya enak. Satu hal yang patut dicatat tentang Will Smith adalah bahwa dia punya komitmen yang besar untuk tidak pakai kata-kata kasar — atau orang bule biasa nyebut-nya sebagai four-letter-words — dan temanya-pun selalu positif. Ada juga rapper yang akhir-akhir ini yang semakin ngetop yang namanya Kanye West. Dia sih masih pakai kata-kata kasar di sana sini (tapi nggak diobral banget juga) tapi tema lagu-lagunya beda dengan rekan-rekannya. Kanye kadang romantis, kadang humoris, kadang satiristis. Dalam albumnya Late Registration, justru banyak lirik dan skit yang cerita seolah-olah dia miskin banget. Ini 180% kebalikan dengan rapper-rapper lain yang biasanya akan cerita tentang perhiasannya, duitnya, cewek-ceweknya, dan mobil-mobilnya (baik low-rider yang bisa naik-turun pake suspensi hidrolik maupun mobil-mobilnya yang pake dubs—itu lho pelek bling-bling yang ukurannya 20 inch ke atas.) Ini contoh aktualisasi sense of humor-nya si Kanye. Terus ada juga sound yang disebut G-funk yang dikenal oleh rapper-rapper west coast (yaitu di California, AS). G-funk ini banyak dipopulerkan oleh rapper bernama Warren G. Terus tentu saja kita tahu bahwa mulai ada rapper-rapper kulit putih yang mencoba nasibnya dalam dunia yang dikuasai oleh orang berkulit hitam ini. Tersebutlah beberapa nama seperti Vanilla Ice, Eminem, Linkin Park, Crazy Town, Limp Bizkit dan lain lain yang menyajikan rap versi mereka masing-masing. Seperti kita tahu, tingkat kesuksesan mereka-pun berbeda-beda. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa rap oleh orang kulit putih tidak [atau belum?] sebesar rap oleh, misalnya keturunan hispanic di Amerika. Jika kita ingat, cerita mengenai lahirnya cikal bakal musik rap di atas, kita akan ingat bahwa Bronx selain dipadati oleh orang kulit hitam juga dihuni oleh banyak orang keturunan hispanic. Jadi maklumlah bahwa penggemar musik rap pada umumnya adalah orang kulit hitam dan keturunan hispanic. Namun itupun lambat laun berubah. Fenomena yang ada sekarang sering disebut cross-over, yaitu menyebrangnya orang kulit putih dan etnik lain-lain menjadi penggemar musik rap. Rap has gone mainstream.

Rap Inc. Advertising Firm?
Satu hal yang khas tentang musik rap adalah bahwa walaupun kita sedang mendengarkan gangsta rap, bisa saja—kalau kita simak liriknya—kita dibuat senyum di sana-sini. Ini karena dalam lirik yang temanya keras-pun, dapat kita dengar sesuatu yang lucu—atau paling tidak—sedikit menggelitik. Rapper memang sering suka menyebut atau membandingkan sesuatu dengan produk yang kita kenal sehari-hari (misal jenis kartu kredit, makanan & minuman, merek baju, dan lain-lain) dengan sentuhan humor. Kadang rapper juga suka nyebut selebritis atau rapper lain [dan tidak selalu dalam konteks yang menyenangkan mereka]. Eniwei, mengingat bahwa Amerika adalah tempat lahir dan berkembangnya musik rap dan juga salah satu negara dimana industri marketing dan advertising-nya sangat maju, banyak orang menuduh bahwa beberapa perusahaan besar melakukan ”product placement” dalam lagu-lagu rap. Tuduhan itu wajar, toh dalam dunia filem product placement menjadi sangat, sangat umum. [Kalau kita nonton filem keluaran Hollywood, dan lihat jagoannya naik mobil, misal, BMW sambil bicara dengan, misalnya handphone Sony Ericsson, kemungkinan besar itu adalah product placement oleh BMW, Sony Ericsson dan Swatch—waktu ngangkat HP sempat keliatan dia pake jam Swatch Skin]. Seperti dalam dunia filem, perusahaan yang melakukan product placement dalam industri musik rap akan membayar rapper untuk menyebut merek produknya dalam lagu rap mereka. Terlepas dari benar nggaknya tuduhan itu, sulit juga untuk membedakan apakah waktu si Puffy cerita bahwa dia punya Mercedes yang belum pernah dia pake dalam salah satu lagunya adalah kemauan si Puffy sendiri ataukah Benz kasih dia duit? Memang sulit, kadang rapper memang menyebut merek-merek yang sangat sehari-hari (misal, MTV, KFC, kartu kredit Visa) dan kadang menyebut merek-merek kelas atas (misal Mercedes Benz, Rolex, Armani) secara suka rela—tergantung dari cerita lagu itu. Tapi terlepas dari dibayar atau nggak, kalo penyebutan itu bikin liriknya lebih deskriptif, lebih nge-flow, atau nge-rhyme, rasanya kita gak usah terlalu ambil pusing. Ohiya, sebelum selesai bicara tentang product placement, percaya nggak kalau kata ”Indonesia” juga disebut oleh beberapa rapper Amerika dalam lirik lagunya? Yang saya tahu adalah Notorious B.I.G. dan Will Smith. Siapa tahu Departemen Pariwisata Republik Indonesia menjalin kerjasama dengan kedua rapper itu [yeah, right!—just imagine the proposal letter: Yth. Bapak Notorious B.I.G., dengan ini kami sampaikan proposal...] Eniwei, kembali bicara mengenai warna dan tema, masih banyak warna-warna lain yang unik yang dibawakan oleh rapper-rapper lain dan semuanya terus berkembang. Kelak mungkin kita akan liat warna-warna atau tema-tema yang baru. Seperti jenis musik lainnya, rap adalah ekspresi jiwa dari manusia-manusia pencipta ataupun pendengarnya. Keadaan sosial sehari-hari akan sedikit banyak menentukan tema-tema yang ada.

Rap dan alam & budaya Indonesia.
Kalau musik rap di Indonesia gimana? Seperti di berbagai negara lain, musik rap juga berkembang di Indonesia—walau mungkin tidak dengan amat pesat. Masih ingat jaman Iwa K masih sering kita dengar di radio-radio? Banyak bermunculan kelompok-kelompok rap Indonesia yang lirik-liriknya sedikit banyak cerita kehidupan sehari-hari dan cukup menghibur. Unsur humor cukup kental juga digunakan dalam lirik-lirik buatan Indonesia dan memang sepertinya humor itu menjual. Siapa sih yang bakalan nolak dikasih lirik bahasa Indonesia yang lucu dan gampang diingat dan dilatari dengan melodi dan beat yang enak? Banyak? Tapi ternyata tidak banyak banget juga. Lihatlah sekeliling kita? Apa kita banyak lihat kelompok-kelompok rap lokal apalagi yang tingkat popularitasnya sebanding dengan kelompok-kelompok lokal pengusung musik pop dan rock? Di sisi pop dan rock ada Shiela on 7, Nidji, Peterpan, dan seabreg lagi. [Contohnya gak usah banyak-banyak, toh ini juga bukan product placement]. Tapi disisi musik rap lokal? Bagai bumi dan langit. Kenapa ini bisa terjadi? Mungkin jawaban yang sederhana dan agak ngawur [tapi mungkin juga tidak terlalu ngawur] adalah: karena alam dan budaya Indonesia menghendakinya demikian. Mungkin alam dan budaya Indonesia memang tidak cocok untuk musik rap Indonesia? Bisa jadi.

Proses ”seleksi dan uji coba”.
Indonesia dan orang Indonesia itu sangat beragam. Background budaya-nya pun beragam. Akibatnya, kita ini mempunyai budaya yang gampang menyerap seni, budaya, adat istiadat lain. Dan itu bagus karena budaya kita akan menjadi semakin kaya dan terus berkembang. Sebagai gambaran, kalau ada jenis musik baru, misalnya rock, yang muncul di luar sono, maka dengan musik itu akan sampai di Indonesia juga. Dan dengan tidak kita sadari akan terjadi suatu proses ”seleksi dan uji coba”. Jika dirasakan cocok, maka jenis musik itu akan tinggal di Indonesia dan melebur dengan gaya dan budaya yang sudah ada di Indonesia dan jadilah musik rock Indonesia. Seandainya musik rock itu—setelah melalui “proses seleksi dan uji coba”—ternyata dianggap oleh mayoritas orang Indonesia kurang cocok, maka musik rock itu pelan-pelan akan meninggalkan budaya kita dan berada di bawah radar dan indera budaya kita. Akhirnya musik rock akan dianggap hanya sebagai passing fad di Indonesia. Tapi tentu saja ini hanya sebuah contoh karena kita tahu bahwa musik rock telah masuk, melewati proses ”seleksi dan ujicoba”, dan lulus dengan angka yang sangat memuaskan. Hampir sudah tak terhitungkan berapa jumlah pemusik rock di Indonesia. Banyak diantara mereka yang bisa make a pretty darn good life out of it too!

Nice try, but come back next year please.
Gimana nasib musik rap? Apakah mereka telah lolos proses seleksi dan uji coba di Indonesia? Mungkin jawabannya ”tidak” atau paling-tidak ”belum”. Beberapa tahun lalu musik rap Indonesia pernah mulai akan merebak, namun ternyata kecepatan rebak-nya tidak dapat dipertahankan. Dalam konteks musik Indonesia, berapa diantara kita yang sambil menunggu pintu lift terbuka [kalau pas agak sepi] suka mensiulkan atau melantunkan tembang Peterpan, Nidji, atau Dewa atau kelompok lokal lainnya? Berapa diantara kita yang melantunkan lirik-lirik rap lokal? [***Ding-ding*** pintu lift terbuka, diam, dan tertutup kembali—tetap tidak ada orang yang melantunkan musik rap lokal.] But why? Mungkin memang nggak pas untuk kita karena berbagai alasan: 1). Memang nggak kita banget, 2) Konotasi negatif yang timbul dari beberapa nukilan berita yang sempat terdengar tentang dunia rap di Amerika, 3) Sulit untuk nge-rap dalam bahasa Indonesia karena struktur kata-katanya yang panjang dan 4) Anak-anak yang pengen jadi rapper belum PD [maksudnya percaya diri, bukan Puff Daddy] untuk bikin lirik dan nge-rap dalam bahasa Inggris, atau seribu satu alasan tidak jelas lainnya. Alasan bisa tidak jelas, tapi yang jelas musik rap lokal memang kurang berkembang di Indonesia.

Why make when you can just buy?
Kenapa tadi saya bilang bahwa jawaban dari pertanyaan “Apakah musik rap lolos dari proses seleksi dan uji coba?” adalah “tidak atau belum”—dan bukan “tidak” saja? Karena, menurut saya, mungkin saja gelombang musik rap akan mencoba sekali lagi untuk masuk pintu-pintu telinga dan hati orang Indonesia dan berharap akan diangkat menjadi sesuatu yang Indonesia. Dengan semakin banyaknya penyanyi lokal yang lihai bikin dan fasih nyanyi lagu-lagu dalam bahasa Inggris maka mungkin akan muncul rapper-rapper yang dari suara, bahasa, dan lingo-nya gak bisa dibeda’in apakah dia rapper dari Brooklyn atau Blok-M. Too Phat dari Malaysia adalah salah satu contoh yang cukup lumayan. Kedua anggota duo itu tidak hanya punya kemampuan mengucapkan kata-kata bahasa Inggris sebagaimana native speaker bahasa itu, namun juga cukup tahu lingo rap yang musti digunakan. [Pernah dengar orang yang nggak ngerti komputer nerangin kerusakan komputer kepada orang IT support? ”Mas, komputer saya kedip-kedipannya kadang suka hang dan nggak mau pindah walau sudah saya enter-enter driver-nya. Kena virus ya, Mas?”. Ini sekedar contoh orang yang using all the wrong lingos]. Mereka—Too Phat, maksudnya—bahkan dapat kolaborasi dengan rapper Warren G (dari California, AS) untuk me-rilis-ulang salah satu hits dia beberapa tahun lalu. Dan semua itu bisa juga terjadi di Indonesia. Bisa iya dan bisa tidak. Tapi, apapun yang terjadi menurut saya baik. Ada hal-hal tertentu dari luar yang mudah di adaptasi oleh kita dan dibuat oleh kita dan dikembangkan oleh kita sehingga mencarinya-pun cukup di lokal—misal pizza, burger, dan mungkin beberapa jenis pakaian. Namun ada hal-hal lain yang kadang kita pikir kita lebih enak untuk ambil saja barangnya dari negara pencipta asalnya—misal branded clothing, beberapa produk elektronik, dan mungkin saja musik rap? Kita lihat saja.***

Minggu, 11 Juli 2010

Serenade Malam

“Ambilkan bulan, Bu....”

Ia melantunkan lagu tersebut berkali-kali di telingaku. Kadang sampai aku merasa bosan mendengarnya, tapi ia tidak pernah lelah menghiburku. Kakakku tersayang satu-satunya, ia tidak pernah bosan menina-bobokanku dengan lagu tersebut.

“Kak, kita tidur di sini sekarang?” tanyaku. Ia tersenyum dan mengangguk. Rambut pendeknya terayun-ayun dan matanya bersinar.

“Kita tidur di sini supaya bisa melihat bulan. Adek senang kan melihat bulan...?” tanyanya kemudian.

“He-eh.” Jawabku pendek. Aku sangat mengantuk. Karenanya, aku segera merebahkan diriku di atas terpal plastik yang ia dapat dari sisa-sisa bangunan yang baru dipugar siang tadi. Aku menatap langit yang terbentang luas. Pendar-pendar perak cahaya bintang kadang tampak mengabur di mataku yang tersapu angin. Suara jangkrik dari balik rumput liar begitu dekat terdengar di telingku. Sesaat kemudian, angin kali berhembus. Aku menggigil kedinginan.

“Dek, Adek kedinginan, ya...?” tanyanya sambil mengusap keningku. Aku mengangguk pelan. Aku ingin mengatakan padanya tidak apa-apa, tapi bibirku terasa kaku.

“Pakai sarung saja, ya Dek....” Ia mengambil tas kecil yang selalu tergantung di bahunya, kemudian mengeluarkan sarung kotak-kotak berwarna merah pudar. Tidak lama kemudian, seluruh tubuh kecilku sudah terbungkus oleh sarung tersebut, sarung satu-satunya peninggalan emak sebelum meninggal.

“Kak....” Aku mendesis. “Emak sekarang di mana ya?” Tanyaku.

Ia terdiam mendengar pertanyaanku, mungkin bingung menjawabnya.

“Emak sekarang ada di sana.” Jawabnya kemudian sambil menengadah menatap langit malam. “Adek lihat bintang-bintang itu...? Nah, bersama merekalah sekarang emak berada.” Lanjutnya.

Aku ganti terdiam. Bayangan emak satu persatu berkelebat di benakku. Tiga bulan. Ya, tepat tiga bulan yang lalu emak meninggalkan kami berdua. Biasanya emak tidak pernah pergi lama-lama, paling hanya untuk berjualan di pasar. Tapi kali itu tidak. Kakakku bilang, walaupun emak tidur, tapi ia tidak akan pernah bangun lagi.

Lalu semuanya berubah tiba-tiba. Para tetangga tiba-tiba saja datang dengan wajah sangar sambil berkata hal-hal yang tidak ku mengerti. Satu-satu mereka mengambil segala barang yang ada di dalam gubuk kami. Radio, kompor, panci, ember, bahkan hingga baju-baju tua ibu. Saat itu kakakku hanya menangis tersedu-sedu di sudut rumah sambil memelukku yang baru pulang bermain layang-layang.

“Dek, kita harus pergi dari sini.” Begitu katanya.

“Huaaaahhhmmm....” Aku menguap lebar-lebar. Rasanya mataku berat sekali.

“Kak, tidur yuk, sudah malam.” Ajakku.

Ia hanya tersenyum dan beringsut-ingsut mencoba merebahkan tubuhnya, tapi tiba-tiba...

“Aduuuuh.” Ia mengaduh kecil saat punggungnya menyentuh tanah.

“Kak, masih sakit punggungnya?” Tanyaku kaget. Terduduk aku memperhatikannya.

“Enggak...” Ia menggeleng, “Enggak apa-apa kok. Sudah kita tidur saja, yuk.” Jawabnya menghibur.

Dari sudut mataku, aku lihat matanya terpejam sambil meringis. Pasti sakit sekali pukulan orang itu siang tadi, pikirku. Aku mengeluh dalam hati. Ingatanku mengembara lagi.

Siang tadi, ketika mencari barang-barang bekas, tanpa sengaja kami melewati rumah makan besar. Dari balik kaca, terlihat orang-orang yang sedang makan. Satu demi satu potongan ayam goreng masuk ke dalam mulut mereka, dan mereka tampak sangat menikmatinya. Namun, tidak tahu mengapa penjaga rumah makan itu tiba-tiba keluar dan marah-marah pada kami. Ia bahkan mendorongku keras-keras sampai aku terjerembab. Kakaku sangat marah melihat aku terjatuh. Ia menyerang orang itu dan menggigit lengannya keras-keras.

“Aaaaaaah...anak gila!!” Teriaknya.

Saat itu aku melihat tangan orang tersebut melayang ke punggung kakak yang segera tersungkur. Sesaat kami jadi tontonan orang yang lewat, hingga seorang laki-laki yang berpakaian rapi keluar dari rumah makan dan mengusir kami.

“Orang itu jahat, ya Kak.” Kataku sedih. “Kalau aku sudah besar, ia akan aku pukul, supaya punggungnya juga merasa sakit!” Ujarku.

“Adek...adek.” Ia menggumam. Matanya menatapku ramah. Entah mengapa aku selalu merasa bahwa dibalik matanya tersembunyi bintang-bintang yang selalu bersinar terang.

“Kalau Adek sudah besar, Adek harus jadi seperti matahari. Tidak pernah bosan memberi kebaikan pada siapa pun, bahkan kepada orang-orang yang jahat. Yang cahayanya membuat bulan menyinari malam. Adek pun harus dapat menerangi kegelapan. Adek harus jadi anak yang baik, sabar, dan kuat.” Katanya pelan sambil tersenyum.

Aku tidak pernah mengira bahwa itu adalah saat terakhir ia berbicara panjang lebar kepadaku karena beberapa jam kemudian dalam lelapku, antara sadar dan tidak, aku mendengar tangis pelannya menahan sakit. Tangis yang perlahan-lahan lalu menghilang berganti dengan diam yang tenang. Baru ketika azan subuh terdengar aku terbangun dan mendapatinya tertidur dengan wajah yang pucat. Betapa takutnya aku ketika kulihat di sudut bibirnya terdapat jejak berwarna merah. Serentak aku berdiri dan mengguncang-guncang tubuhnya, tapi ia tidak bergerak sedikit pun. Sama seperti emak waktu itu.

“Kak, Kakak...!” Aku menatap wajahnya , mungkin mata bintangnya akan bersinar lagi. Tapi Tidak. Mata itu tetap terkatup erat. Aku menggigil.

Aku mundur ketika terdengar suara-suara ribut di depanku. Titik fajar sudah nampak. Sebentar lagi kali ini akan ramai dengan orang. Satu-dua bahkan telah datang dan menatap ke arahku yang beridiri bingung.

“Hei, siapa itu?”

Aku terkesiap. Langkahku menyurut.

“Hei, tunggu...!”

Aku berbalik dan berlari. Oh, entah kenapa. Aku merasa sangat takut. Mereka mungkin akan menangkap dan memukulku seperti yang mereka lakukan pada kakaku. Aku takut....!

“Heeeii....!” Terdengar langkah-langkah berat di belakangku.

Aku berlari tanpa arah menyusuri lorong-lorong kampung. Meninggalkan orang-orang yang semakin ramai berdatangan ke kali. Cepat, dan semakin cepat aku berusaha berlari agar mereka tidak sampai menangkapku.

Langit mulai bersemburat jingga. Satu buah bintang besar bersinar. Oh, Ibu aku harus ke mana? Tanpa sadar aku melintasi jalan raya. Suasana subuh. Dan dari balik tikungan aku melihat sinar. Sinar terang. Seperti mata kakakku.

“Kakak....!” Aku tertegun sesaat. Lalu tiba-tiba saja aku merasakan tubuhku melayang dan terhempas keras.

Sayup-sayup kudengar seseorang berkata, “Gila lu, nabrak orang!” Lalu kosong. Tidak terdengar apapun. Badanku terasa sangat sakit dan sulit digerakkan. Aku hanya terbaring diam. Sesaat kemudian sayup-sayup kudengar nyanyian jangkrik dari balik rumput liar yang kian pelan. Samar di langit kulihat dua buah bintang, salah satunya bersinar terang. Aku yakin mereka pastilah emak dan kakaku.

Aku memejamkan mataku. Aku menangis kesepian.

Buat adik-adikku
“generasi Indonesia yang tercabik-cabik di pinggir jalan”
===============
Vani Diana Puspasari

Jumat, 11 Juni 2010

Cara Cepat Belajar Nge-rap Kayak yang Udah Pro

Kali ini gue mau nulis tentang teknik vokal yang namanya rapping.
Nah, mungkin banyak diantara ente pade yang ngerasa diri udah pinter ngerap and gak perlu belajar apa-apa lagi dari orang yang nggak (baca: belum) dia kenal. Tapi nyatanya 90% (estimasi konservatif) dari musisi yang ngerasa dirinya oke dalam musik rap itu wack bangetts man. Jadi perlu rektifikasi en kembli ke dasar-dasar teknik nge-rap. Untuk lo pade yang ngerasa “ah gue sih udah pede”, baca terus artikel ini, siapa tau lo bisa belajar sesuatu yang baru untuk memperkaya gaya rap lo, why not?
Seperti sebelumnya, kita mulai dari awal…
Apa itu nge-Rap?
Gue nggak bakal ngulas sejarahnya soalnya itu aja nggak jelas. Ada yang bilang mulainya di Jamaica, ada yang bilang di New York, ada yang bilang di Bogor… Oke yang terakhir itu pastinya nggak. Tapi yang penting, lo mesti paham bahwa rap itu tidak lain dan tidak bukan adalah nyanyian yang nggak di “nyanyi” in tapi lebih di sebut aja, seperti ngomong biasa, alias manajemen gue suka bilang ngomel.
Di mana nyanyian itu lebih terikat sama melodi dari sebuah lagu, rap itu terikat dengan ketukan nya. Tapi semakin ke sini, musisi semakin kreatif, jadi ada juga rap yang sedikit dinyanyiin, seperti Nelly, Nate Dogg de el el.
Juga, jangan pikir rap itu dilakuin sama rapper doang. Karena, ada juga lagu-lagu populer yang di-rap sama penyanyinya, seperti lagu “Rock DJ” dari Robbie Williams, lagu-lagu Craig David yang lama seperti “Fill Me In” sama “Rewind”, dan seterusnya. Lo juga bisa mikirin sendiri lagu apa aja yang ada teknik nge-rap nya dari lagu barat dan Indonesia.
Cara simpel memahami lantunan rap
Kalo kita ke bare bone basics nya, rap itu sama dengan perkusi yang dibuat dengan kata-kata.
Coba aja, kita pikirin lagu rap favorit kita, terus kita ganti setiap suku katanya dengan suara “duh” atau suara-suara conga. Dengan itu kita bisa pahamin bagaimana hubungan antara rap sama ketukan. Yang bakal kita temuin itu adalah rap itu ngikutin ketukan dengan persis.
Untuk yang nggak biasa bawain musik rap, ini perlu banyak latihan dan perlu banyak dengerin musik-musik rap populer (jangan yang terlalu Indie, soalnya kalo lo mau populer, lo mesti belajar ama yang populer, jangan ama yang underground). Kalo gue sendiri, rapper-rapper yang menurut gue flow nya asik dan kreatif itu De La Soul, A Tribe Called Quest, Wu Tang Clan, Will Smith, juga rapper-rapper billboard jaman sekarang seperti T.I., Lil Wayne, Kanye West, Black Eyed Peas… Kalo lo mau referensi untuk rap Indonesia, flow yang asik bisa lo denger dari musiknya Iwa K, Soul ID, Saykoji… Juga jangan lupa dari supergroup residen OSA-Music.com, One Step Ahead., heh heh.
Kenapa bisa susah ngikutin ketukan sih?
Kalo kita dikasih lagu rap yang lari dari ketukan, pasti nggak enak didenger. Itu seperti dengerin nyanyian yang fales. Juga kalo kita sebagai newbie dalam bikin lagu-lagu rap (yang gue sebut newbie itu maksudnya pengalaman nulis lagunya belum sampe setahun), kita bakal sering lari dari beat dan sama sekali nggak bisa diadu tekniknya sama rapper-rapper populer yang gue sebut tadi.  Ini ada beberapa faktor:

  1. Masih baru, tapi udah pengen nge-rap cepet-cepet. Mulai dari yang lambat aja, yang penting ngikutin tempo – FLOW.
  2. Nge-rap dalam bahasa yang lo nggak fasih. Contohnya nge-rap dalam bahasa inggris atau bahasa jerman atau apa kek yang lo nggak fasih en nggak alami logatnya. Ini beda dari nyanyi, bros and sisses, dimana kalo nyanyi itu tinggal ngafalin aja melodinya masih bisa enak didenger, tapi kalo rap beda. Jadi kalo lo nggak pinter bahasa barat, lo bahasa indonesia aja.
  3. Kurang konsentrasi ke beatnya, temponya, jadi tanpa disadarin taunya udah lari aja.
Mau tau nggak teknik paling nomer satu untuk nguasain rap?
Gampang banget. Jawabannya cuman satu: pilih satu lagu populer yang rap nya asik dan bawain tuh lagu sampe dapet flow seperti yang aslinya. Contohnya, kita pilih lagu “Terbang” nya Iwa K. Bawain tuh lagu sampe dapet.
TERUSS… setelah lo dapet, coba aja lo ganti kata-katanya pake kata-kata lo sendiri.
My friends, lo baru aja ngebukain kunci yang paling berat. Dari latihan yang pertama itu aja lo udah bakal nyadarin hubungan antara vokal rap sama ketukan. Kalo lo udah bisa bawain satu lagu dengan flow yang sama persis ama aslinya, dengan otomatis (mudah-mudahan) lo udah bisa mahamin prinsip pertama dari rap, yaitu flow. Lo bakal tau kenaba orang bisa nikmatin rap itu.
Gue bagi teknik yang seperti itu karena itu dari pengalaman gue sendiri. Taun 2003, sobat gue satu SMA waktu di Brunei ngajak gue ngisi di acara prom night gitu, ngebawain lagunya Jermaine Dupri feat. Nate Dogg “Ballin’ Like Me”. Padahal sebelumnya gue nggak pernah ngerap. Dari latihan-latihannya gue mulai seneng terus akhirnya gue dapet teknik nge-rap.
Itu yang paling dasar dari teknik rap. Kalo prinsipnya udah dapet, lo tinggal dengerin lebih banyak lagi musik rap supaya dapet ide-ide untuk gaya flow, dan juga ide-ide topik yang bisa lo bawain dalam rap-rap lo.
Mudah-mudahan lo bisa dapet sedikit pelajaran dari artikel hari ini okay boys and girls,


dari   :  http://hiphopsquadtasik.blogspot.com/